Hidayah

Awalnya karna percakapan yang terjadi antara nenekku dan aku. Pada hari ini, tanggal 17 Agustus 2012, sekitar hampir pukul 19.

“Kamu zakatnya apa?” Tanya nenek tiba-tiba ketika kami sedang menyantap makan malam kami. Beliau sedang menikmati nasi yang ditaburi bumbu kacang yang dihaluskan.

“Ya beras dong.” Jawabku agak sedikit heran, mengingat dari kemarin kami sekeluarga membicarakan zakat fitri yang tak bisa diganti dengan uang, melainkan dibayar dengan makanan pokok setempat.

Dan akhirnya aku menangkap senyum-senyum misterius bercampur jahil dari wajah nenekku.

“Kenapa gitu? Kan memang harusnya beras bukannya uang.” Aku menambahkan.

“Kamu gak makan nasi.” Kata nenekku sambil melihat piringku yang berisi opor ayam, tauge dan potongan mentimun.

Yap. Nenek sedang menggodaku. “Makanan pokok penduduk setempat, Ma. Bukan makanan pokok individu. Bisa-bisa zakat fitriku nanti tauge, ahahaha. Berapa kilogram tauge yang harus kukasih coba?” Pikirku konyol.

Dulu, kami sempat membayar zakat dengan uang. Apalagi ketika aku masih sekolah. Zakat dengan uang berlangsung sampai aku sekolah di SMP. Ketika SMA, guru Agama menyarankan kami untuk berzakat dengan beras dengan mutu yang bagus.

Hanya saja, pengetahuanku saat itu tentang zakat fitri tidak sejelas sekarang.
Sekarang, alhamdulillah aku mengetahui kapan waktu yang terbaik untuk memberikannya, memberikannya dalam bentuk apa, kepada siapa, juga hadistnya.

Sering sekali pikiran itu tiba-tiba muncul: Ya Alloh, kemana saja aku selama ini? Baru tau tentang ini. Baru tau tentang itu.

Kalau sudah begitu, dalam hati aku bilang, “well…takdirnya memang seperti ini, sudah tertulis di Yaumul Mahfu bahwa aku harus menjalaninya seperti ini.” 🙂

Teringat kajian yang diisi oleh Ustadz Sufyan Baswedan ketika aku mengikuti Madrasah Ramadhan 10 hari awal pertama Ramadhan di Masjid Ash-Shiddiq Kebon Gedang.

Kajian intinya membahas 40 hadist. Tapi yang paling kuingat sekarang tentang “Takdir”

1. Masing-masing di antara kita memiliki takdir.
2. 50000 tahun sebelum langit dan bumi diciptakan, takdir kita sudah dicatat di Yaumul Mahfu.
3. Manusia mengikuti takdir (ketetapan Alloh untuk mahluk ciptaan-Nya)
4. Manusia yang berada dalam hidayah harus berada dalam “Syukur”. Ia harus senantiasa memohon pertolongan dan petunjuk/hidayah kepada Alloh karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian.
5. Ia harus merasa takut, jika esok lusa ia melakukan kemaksiatan. Maka teruslah berdoa kepada Alloh supaya Alloh bisa menjadikannya sebagai ahli ibadah.

Alhamdulillah…
Kami sekeluarga telah mengetahui bagaimana menunaikan zakat fitri sesuai tuntunan Rosululloh. Semua karna hidayah yang telah Alloh berikan.

Ya…
Semoga Alloh senantiasa memberi kita pertolongan dan hidayah-nya. Semoga kita selalu bersemangat dalam menuntut ilmu yang syar’i, yang sesuai denga Al-Qur’an dan Sunnah (Salafus sholih)

Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s