Pengaruh Niat Terhadap Pernikahan

niat00001

Niat sangat berpengaruh terhadap pernikahan, karena pernikahan harus didasari dengan raghbah (keinginan yang tulus), bukan karena tujuan-tujuan yang tidak sesuai dengan syari’at. Nafi’ berkata: “Ada seseorang datang kepada Ibnu Umar Radiallahu’anhu dan bertanya tentang seorang laki-laki yang mentalak istrinya tiga kali, lalu saudaranya menikahi mantan istrinya tersebut tanpa ada persekongkolan dengan suaminya yang pertama, yaitu dengan tujuan agar wanita itu dapat kembali halal untuk suaminya yang pertama. Dalam hal ini, apakah wanita itu menjadi halal untuk suaminya yang pertama? Ibnu Umar menjawab, ‘Tidak, kecuali (jika saudaranya tersebut) menikahi  dengan raghbah (keinginan yang tulus), kami dahulu di zaman Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menganggapnya sebagai zina’” (HR. Hakim dan Al Baihaki denan sanad yang shahih).

Di antara niat yang diharamkan adalah menikahi wanita yang ditalak suaminya tiga kali dengan niat agar ia dapat kembali halal bagi suaminya yang pertama. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam:

“Allah Suhanahu Wa Ta’ala melaknat Al-Muhallil dan muhalla lahu.” (HR. Abu Dawud)

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, muhallil artinya lelaki yang menikahi wanita yang ditalak tiga dengan tujuan agar wanita itu menjadi halal bagi suaminya yang pertama, sedangkan muhallal lahu adalah suami yang mentalak tiga yang menyuruh seorang laki-laki untuk menikahinya dengan syarat mentalaknya agar istri menjadi halal untuk ia nikahi kembali.

Di antara niat yang diharamkan adalah menikahi seorang wanita dengan niat mentalaknya setelah beberapa waktu yang ia kehendaki. Hal ini merupakan hal yang diharamkan atas pendapat yang kuat karena ia menikahinya bukan karena raghbah sebagai mana dalam hadist Ibnu Umar di atas, dan juga lebih menyerupai nikah mut’ah. Di samping itu, nikah dengan niat talak mengandung penipuan, menyebabkan permusuhan, menghilangkan tsiqah (rasa percaya) di antara kaum muslimin dan menimbulkan banyak mafsadat dan kemungkaran. Tentunya nikah seperti ini banyak menimbulkan mudharat dan lebih layak dikatakan tidak sa ibandingkan dengan nikah mut’ah yang ada padanya saling ridha untuk berpisah pada waktu tertentu.

 

Sumber: Buku “Niat Penentu Amal” oleh Abu Yahya Badru Salam, Lc.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s