Semua Karena Allah

“Beli jeruk nipis 2 ribu aja, ada kan?” Tanyaku pada pedagang sayur tempat langgananku di pasar Pabuaran. Hari itu yang menjaga kios sayurnya bukan ibu-ibu langgananku, tetapi seorang kakek.

“Ada, tapi tinggal sedikit soalnya sisa-sisa.” Jawab kakek tersebut.

“Yang ini?” Aku mengambil kantong plastik transparan yang berisi jeruk nipis.

“Iya, mau?”

“Boleh deh.” Aku menyetui, mengingat tidak mudah untuk mendapatkan jeruk nipis di daerahku ini. “Ibunya kemana? Biasanya kalau belanja di sini yang jaga kios kan ibu.”

“Sedang antar cucu sekolah,” jawabnya  “Neng guru TK ya?” Tanya si kakek itu, dan itu membuatku terkejut. Bukan karena ia bertanya sambil berteriak sehingga aku bisa terkejut, tapi karena ia bisa menebak bahwa aku (pernah jadi) guru TK.

Hal itu membuatku penasaran “Kok bisa tahu kalau saya guru TK?”

“Tau aja, dari gerak-gerik sama gaya bicaranya.” Jawabnya ramah.

*Misterius*


Heh? Dari gerak gerik dan gaya bicaraku katanya?

Tapi kan…. Aku enggak sok imut dan sok cadel seperti kebanyakan orang alay jaman sekarang. Lagipula selama mengajar dan bersama anak-anak pun aku juga enggak sok imut dan sok cadel, karena menurutkku sikap seperti itu bisa menyesatkan hehe… Karena kunci penting mengajak bicara anak-anak balita itu harus dengan ejaan baik dan benar, bukannya bercadel-cadel ria misal: “Dede mimi tutu ya…” (Dede minum susu ya!) atau “Lambutnya dicicil duyu bial lapih… ” (Rambutnya disisir dulu biar rapih.” Kalau sudah cadel, ga mudah juga menyembuhkannya loh. Harus latihan mengucapkan hurup “R” sesering mungkin 🙂

Kalau dari bayi sering diajak bicara cadel, jangan harap juga sih bahwa anak tidak akan cadel. Camkan!! haha

*IMHO*

Singkatnya, sepulang belanja jadi kepikiran terus tentang guru TK. Cupu juga sih, sudah hampir satu tahun aku berhenti jadi guru TK dan bekerja, tapi kadang masih ngaku-ngaku juga. Masalahnya, aku masih ingin mengajar di TK karena bekerja dengan anak-anak telah menjadi passion-ku selama 5 tahun terakhir ini.

Padahal ambisiku dari SMA adalah ke Jerman/Austria/Swiss/Inggris/Kanada untuk meneruskan studi sambil bekerja lalu berkarir dan mungkin berkeluarga juga. Tapi segalanya berubah seiring dengan ketertarikanku pada “dunia anak-anak” yang muncul ketika aku di Jerman. Yang semulanya aku berniat melanjutkan study dengan mengambil Interior Design/Visual Communication Design/Arsitektur/Hubungan Internasional malah berubah karena aku ingin menjadi Guru TK.

Tentu saja itu sebuah kejutan cukup besar untuk orang-orang yang mengenalku. Kenapa juga musti jauh-jauh ke Jerman kalau mau menjadi Guru TK? Kira-kira itulah komentar mereka. Sayangnya orangtuaku tidak mengizinkanku untuk melanjutkan kulian di Eropa, padahal aku sudah bertekad untuk melanjutkan studi dengan mengambil jurusan Psikologi Anak atau Kindergarterin (aka. Guru TK).

Orangtuaku bilang bahwa satu tahun tinggal jauh dari keluarga adalah waktu yang sangat lama. Lagipula kuliah S1 Pendidikan Bahasa Jerman-ku di Indonesia juga belum diselesaikan. Akhirnya aku pulang dengan berat hati karena harus menolak tawaran beberapa kenalan yang bersedia mensponsori visa student-ku jika aku mau melanjutkan kuliah di sana.

Bukan perkara mudah bagiku untuk berjuang melawan ambisi(dunia)ku yang sudah kurencanakan sejak aku masih SD. Ambisi yang selalu berada dalam daftar “Wish List” Agenda tahunanku. Konyol saat memikirkan bagaimana perasaanku sebagai Liverpudlian ketika harus menolak tawaran temanku untuk kuliah dan bekerja di Liverpool. Untungnya, keluargaku dengan cara istimewanya meredakan ambisi duniawiku itu.

Aku dengan logikaku saat itu menilai bahwa ambisiku masih dalam tahap yang wajar; ingin kuliah dengan jurusan yang aku mau di Negara yang sejak dulu menjadi favorit untuk kukunjungi. Lalu bekerja yang menghasilkan penghasilan yang lebih besar jika dibandingkan jika aku bekerja di Indonesia. Logikaku, aku bisa membantu membiayai adik-adikku misalnya.

Tapi itu hanya rencana yang dirancang oleh manusia. Allah Maha Baik yang mengetahui apa yang lebih baik untukku dibandingkan dengan mengunjungi Negara-negara yang kusuka atau mendapatkan gaji euro, poundsterling atau dollars. Karena yang kudapat bahkan tak bisa dibeli oleh sekoper euro.

Akhirnya aku pun pulang ke Indonesia for good…

Bye Bye Schwaningen! Tchzues!!!!!

Bye Bye Schwaningen! Tchzues!!!!!

Here I am…

Dan aku sama sekali tidak menyesal bahwa ambisiku tersebut tidak terealisasikan. Kenapa? Karna aku mendapat gantinya, sebuah ambisi baru karna aku mendapat hidayah besar dari Allah. Subhanallah. Aku bahkan enggak tau cara mengungkapkan betapa indahnya hidayah yang kudapat tersebut dan tentu saja aku enggak mau melepaskannya.
Dengan mengenal manhaj salaf, aku bisa berjibab dengan syar’i, bukan hanya pola pikirku yang berubah, akan tetapi banyak hal yang berubah dari hidupku. Alhamdulillah itu merupakan perubahan yang baik. Sambil belajar manhaj ini aku pun bekerja menjadi guru TKIT Assunnah (yeay…. cita-citaku terealisasi) dan aku begitu menikmati menjadi seorang guru TK: mengajari anak-anak menulis dan membaca, potty training, surat-surat pendek, bacaan sholat, hadist-hadist dan sebagainya. Belum lagi phobiaku pada muntah dan darah menjadi berkurang.

Bagaimana tidak? Suatu hari kami outbound ke Salsabila di Kuningan. Husni muntah di mobil dalam perjalanan. Kalau bukan aku yang mengurusnya siapa lagi? MasyaAllah, aku sanggup menghadapi Husni yang muntah-muntah dasyat. Fyi, dulu jika aku mendengar suara orang muntah (tanpa mencium bau muntah) aku malah ikutan muntah secara otomatis. Tapi sejak menjadi guru TK, Alhamdulillah aku bisa menghadapi bau muntah.

Selain itu adalah phobiaku pada darah juga berkurang. Entah kenapa aku memegang kelas yang anak-anaknya sering mimisan dan berdarah. Misalnya: Muhammad Rafi dan Rafa  yang sering mimisan hingga membuatku terbiasa menghadapi darah. Aku gak pernah mual dan pingsan lagi jika liat darah mengucur. Karna yang kupikirkan saat itu adalah keadaan anak-anak yang mengandalkan pertolonganku.
Well… aku mencintai pekerjaanku sebagai guru TK. Aku merasa bangga jika ditanya tentang pekerjaanku (boleh gak sih merasa bangga seperti itu?) Menjadi seorang guru TK bukan karna sebatas passion-ku saja, aku amat merasa nyaman dengan pekerjaan itu. Bekerja dengan anak-anak, melatih instingku sebagai ibu kelak, tidak ber-ikhtilath (karna aku hanya  bekerja bersama anak-anak dan rekan akhwat) dan yang tidak kalah penting adalah bahwa aku bisa bekerja dengan hijabku (tentu saja, karna aku bekerja di TKIT bukan di TK International hihi). Aku sudah merasa nyaman dengan bekerja di TKIT, kurasa itu adalah satu-satunya tempat di mana aku mau bekerja. Idealisme-ku sekarang begini. Teringat tentang ucapan pamanku yang memiliki istri seorang guru TK, “Nyamannya punya istri seorang guru TK, pergaulannya aman karna hanya sebatas anak-anak dan semua rekan kerjanya, sekaligus sisi kewanitaan dan keibuannya diasah setiap hari.”

Sekarang, sudah satu tahun lebih satu bulan aku berhenti kerja. Aku sering merasa kangen mengajar dan bermain bersama anak-anak, terlebih jika aku sedang merasa jenuh dengan aktivitasku.

Jika teringat ambisiku untuk kuliah Psikologi Anak di Eropa, aku merasa… “Hello….. Key… Islam adalah agama yang sempurna.” Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia. Termasuk bagaimana caranya supaya kita mempunyai anak yang sholih/sholihah, dimulai dari sejak menentukan calon ayah/ibu bagi anak-anak kita, saat di dalam kandungan, setelah dilahirkan, keharusan memberi ASI, cara menyapih, bagaimana cara mendidik anak, dan lain sebagainya.

Can you imagine? Bagaimana jika aku jadi mengambil Psikologi Anak di Eropa? Salah satunya adalah pendidikan barat sudah menerapkan bahwa musik klasik bisa mencerdaskan anak, menenangkan, dan menentramkan.  Padahal sebagai orang Islam kita mempunyai Al Qur’an yang khasiatnya jauh lebih banyak dan lebih dasyat dari sekedar musik klasik. Hanya saja sayangnya banyak orang Islam yang pikirannya sudah terdoktrin oleh budaya barat yang secara teknologi sudah jauh lebih maju. (Sepertinya ini sudah OOT, dan harusnya menjadi bahasan tersendiri ya? Hehe…)

Intinya: Tidak ada yang perlu disesali jika kita kehilangan dunia, karna yang memiliki dunia dan isinya adalah Allah. Niatkan segalanya karena Allah akan membuat kita menjalani hidup dengan optimis. InsyaAllah

Barakallahu fiikum

Key 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s