Sansan, Adik Bungsuku

Sansan dengan kambing aqiqah-nya :)

Sansan dengan kambing aqiqah-nya 🙂

Aku bungsuku, Sansan. Tanggal 20 Maret tahun ini ia genap 12 berusia  tahun dan masih kelas VI SD. Walaupun masih SD, kelakuannya (sering) seperti nenek-nenek: gaya bicara juga pemikirannya. Bagi kami, kakak-kakanya, itu merupakan hal yang menggelikan. Kami sepakat menyebutnya dengan nenek-nenek yang terperangkap di tubuh anak SD.

#EmangMustahilBangetJugaSih

Mungkin karena Sansan tumbuh, berkembang dan bermain dengan nenekku, -Granny-. Itu bukan berarti bahwa aku dan kedua adikku yang lain tidak tumbuh dan bermain bersama Granny. Lagipula Granny berperan begitu besar dalam membantu orangtuaku mengurus, mendidik dan membesarkan kami. Hanya saja Sansan memiliki jam terbang bersama Granny  lebih banyak dibanding kami bertiga.

Marimar (bukan nama sebenarnya), adik keduaku memanggil Sansan “Tuwa” karena Sansan memang sering “sok tua”. Sering kami dapati ia tengah berdialog asik dengan Granny membahas sesuatu seperti ibu-ibu arisan dengan rekannya, bukannya seperti dialog antara nenek dan cucu pada umumnya. Ia juga sering berbincang menelaah suatu kasus (yang berkaitan dengan agama) bersama ibuku. Dan tentu saja, itu semua mempengaruhi sudut pandangnya, caranya berfikir dan bahkan gaya bicaranya.

Kisah Pertama

Dua tahun lalu, saat itu Sansan masih kelas IV SD. Suatu hari, (aku lupa apakah itu waktu ashar atau dzuhur) aku memperhatikannya sholat dan berdoa di mushola. Ia terlihat khusyuk (well..untuk ukuran anak SD), ketika berdoa walau doanya tidak sampai kudengar dan membuatku penasaran.

Selesai sholat aku bertanya padanya, “Kamu suka berdoa untukku gak sih?”

Sansan menjawab cepat, “Ya suka atuh!”

“Berdoa apa?” Tanyaku bersemangat.

“Aku berdoa sama Alloh supaya Kaka dapat suami yang se-manhaj, sholeh, pinter, kaya, ganteng…”

What….anak kecil mana lagi yang membicarakan tentang manhaj? Batinku geli. “Semanhaj? Maksudnya?” Tanyaku bingung, karena pernyataan itu keluar dari mulut anak kelas IV SD. Kalau itu keluar dari mulut ibu, ayah atau adik-adikku aku bisa bereaksi normal. Come on, ini dari anak SD.

“Memangnya kamu ngerti apa itu manhaj?” Tanyaku penasaran dan bernada geli.

“Tau dong…” jawabnya pede, super pede.

“Apa memangnya?”

Sansan terlihat berpikir sejenak, “Hmmm…ya gitu deh. Manhaj kan cara beribadah yang benar sesuai contoh Rosulullah dan para Sahabat. Ahlussunnah wal jamaah gitu kan?”

Aku di mana? Ini siapa? Wake me up! Wake me up! (Batinku takjub dan tak percaya).

Aku masih tak percaya bahwa adikku yang masih kelas IV SD ini berceloteh tentang manhaj. Walau di sisi lain aku menyadari bahwa hal ini tak lepas dari peranan dan cara didikan ibuku yang berbeda antara adik bungsuku dan kakak-kakaknya. Aku dan Marisol, adik keduaku, dibesarkan dengan adanya TV di rumah kami (walau jatah nonton TV kami terbatas sekali). Jadi, ketika aku seumuran Sansan (kelas IV SD) jangankan tentang manhaj, kisah para sahabat yang kuketahui pun minim sekali. Yang ada di kepalaku ya…tentang Power Ranger, Hercules, Xena, Kera Sakti, Yoko, McGiver, Pedang Pembunuh Naga dan film Vampir yang ditayangkan setiap hari Sabtu di RCTI, Marimar, Maria Cinta Yang Hilang, Maria Mersedes, Maria Belent, Amigos, Ahhh sudahlah…..

Sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh Sansan. Ia dibesarkan tanpa pengaruh TV, melainkan oleh kajian-kajian atau murottal yang berasal dari MP3 atau Radio yang distel hampir 24jam. Ibuku hampir selalu membacakan kami artikel yang dibacanya di majalah, buku atau sms-sms tausyiah. Jadi tidak heran bukan jika masa kecil kami berbeda? Hehe…

“So…kenapa aku harus punya suami yang se-manhaj?” lanjutku bertanya.

“Kenapa yaaa?” Dia tersenyum dan berpikir, “kan kalau semanhaj bisa cocok aja gitu. Nanti kayak Ummi dan Abi, serasi. Kalo semanhaj nanti kaya Abi, jenggotan, rapi, gak isbal dan bisa jagain anak istrinya dari api neraka.”

Aku pun #Terharu #BercucuranAirMata #Tergelak Mencoba meyakinkan diri bahwa aku memang sedang ngobrol dengan anak SD. Jadi untuk menetralkan suasana hatiku, aku pun mengajukan pertanyaan selanjutnya.

“Selain semanhaj apalagi?”

“Semoga kaka dapat suami yang kaya. Yang bisa beliin kaka buah-buahan setiap hari. Yang bisa beliin rumah di Assunnah. Dan yang paling penting sih kalau suami kaka kaya kan bisa beliin aku motor scoopy.”

Aku tergelak lagi, terdengar matre tapi terdengar lebih normal untuk anak seusianya kan?

“Kalo kaka punya rumah di Assunnah kan enak, nanti kalo SMP aku kan sekolah di Assunnah.” Lanjutnya penuh misi.

“Supaya kamu fullday school aja gitu? Jadi gak perlu tinggal di asrama? Pinter banget!” Godaku akhirnya paham.

“Engga kok, aku tetep di asrama. Kan kalau kaka tinggal di komplek Assunnah kita  bisa setiap hari ketemu, terus kalo aku bosen sama makanan asrama kan bisa minta dimasakin sama kakak. Lagian, aku kan enggak boleh tinggal sama kakak kalo kakak udah nikah. Soalnya aku kan nanti jadi racunnya kakak, kan ada hadistnya…”

#Speechless #Hammer

Yang dimaksud Sansan pasti hadist yang ini:

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

“Berhati-hatilah kalian dari menjumpai para wanita,” maka seorang sahabat dari Anshar bertanya,”Bagaimana pendapat engkau tentang saudara ipar, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab,“Saudara ipar adalah maut (petaka).” [HR Bukhari dan Muslim]

Kisah Kedua

 “Kaka mau ga punya suami polisi?” Tanyanya suatu malam.

“Kenapa?” Alih-alih menjawab, aku malah balik bertanya.

“Kan Polisi bisa memenjarakan hatimu!” Jawabnya menggelikan. “Kalo pelaut kan nanti bisa memancing-mancing hatimu, ka!”

Aku tergelak karenanya. “Ayah pelaut, tapi gak pernah mancing.”

“Oh iya ya,” lanjutnya “kalo gitu bisa menjangkar-jangkar hatimu!” Ini apa lagi? -.-“ hiks…

“Kalau aku sudah besar, aku sih pengen punya suami petani.” Lanjutnya lagi.

“Kenapa? Biar bisa mencangkul-cangkul hatimu?” Serobotku.

“Bukan! Kalo petani kan punya sawah banyak, sawah kan kalo dijual pasti harganya mahal. Kalo habis jual sawah kan uangnya bisa bawa kita sekeluarga pindah ke Madinah. Aku pengen bayarin Ummi dan Abi naik haji.” Katanya serius dan mantap.

Terpukau dengan cita-citanya sejenak, “Jadi cita-cita kamu tuh nikah sama petani? Atau pengen ke Madinah dan haji-in Ayah dan Bunda sih?” Tanyaku gemas, aku memang memanggil orangtuaku dengan sebutan Ayah dan Bunda.

“Pengen ke Madinah sekeluarga supaya selamat dari Dajjal, Dajjal kan enggak akan bisa masuk ke Mekah dan Madinah soalnya dihadang para malaikat yang bawa pedang.” Katanya dengan ekstra jawaban. “Semoga aja suatu hari kita sekeluarga bisa pindah ke Madinah ya, Ka!”

Kisah Ketiga

Suatu saat aku pernah mengalami sakit yang teramat hebat di telingaku, nyaris seminggu aku harus bedrest. Dan, yeah…aku sampai menangis, menangis dan curhat pada Sansan. #AwkwardMomment

“San…telingaku sakit sekali…huhu….”

“Kaka yang sabar ya! Semoga sakit kaka ini insyaAlloh bisa menggugurkan dosa-dosa kaka kalau kaka sabar dan ikhlas.” Sahut Sansan bijaksana sambil membelai-belai kepalaku.

Aku melanjutkan tangisanku….

Kisah Keempat

“Hatcih!!!!” Kudengar Sansan bersin, “Alhamdulillah.”

Aku sibuk mengetik.

“Ka, aku bersin.” Katanya member pengumuman.

“Banyak debu mungkin,” komentarku masih serius mengetik.

“Ka, aku bersin lho.”

“Kamu pilek?” Aku masih serius menatap monitor netbook. “Minum air anget sana!”

“Kaka…” katanya gemas, “aku bersin dan bilang Alhamdulillah!”

“Yaharmukillah!” Kataku spontan, masih serius mengetik.

“Yahdikumullah…” kudengar ia membalas ucapanku lalu melanjutkan aktivitasnya lagi. Aku? kemudian terrgelak menyadari kebodohanku barusan.

Kebiasan Sansan jika dipuji:

“MasyaAllah adikku ini cantik benar sih!!” Pujiku suatu saat ketika melihatnya.

“Masyaallah, Alhamdulillah ini semua karena Allah.”

#LetsSmile hehe….

Sebenarnya banyak perbicaraan khas  ‘nenek-neneknya’ yang selalu membuat kami terpingkal-pingkal. Tulisan ini dipersembahkan untuk adik bungsuku, Sansan. Ia memang tidak tau aku menulis tentangnya di blog, ia sendiri walau sering surfing tapi tak pernah baca-baca blog. Aku yakin, suatu hari nanti ia akan merambah dunia blogging, sepeti kakak-kakaknya dan ada kemungkinan ia akan membaca tulisanku ini. Tulisan yang bisa mengingatkannya padaku, pada kami sekeluarga. Dan mungkin bermanfaat juga buatnya. InsyaAllah. Aamiin 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s