Maaf, Aku Gak Ucapin “Selamat Ulang Tahun” :)

happy-birthday-purple-floral-patricia-s

Dan untuk kesekian kalinya aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada siapapun dalam beberapa tahun belakangan ini. Aku tidak lupa, aku selalu ingat.

Bukankah ‘tidak lupa’ untuk -mendoakan seseorang kapan saja- lebih baik daripada menunggu mengucapkan selamat dan mendoakannya hanya pada 1 hari dalam setahun?

Ketika sahabatku berulang tahun, TL-ku pun penuh oleh retweet-an ucapan selamat dalam satu hari satu malam. Twitpic kartu, hadiah, kue ataupun tempat merayakan ulangtahunnya juga dapat kulihat. Hanya saja, aku sudah tidak bisa merayakan, bahkan mengucapkannya pun aku sudah berhenti.

Dulu….

Sudah menjadi kebiasaan dan kesenangan tersendiri untukku ketika mengucapkan, mendoakan dan memberi hadiah pada keluarga/sahabat/teman/kenalanku yang berulang tahun. Aku selalu ingat tanggal lahir orang-orang yang dekat denganku, dan aku senang ketika memberikan kejutan ulang tahun untuk mereka. Aku bahkan selalu berusaha supaya menjadi orang yang nomer satu mengucapkannya.

Membuat kartu ucapan yang unik dan membingkis kado adalah hal yang sangat menyenangkan, dan makin bersemangat saat membungkus kado atau membuat kartu sambil membayangkan wajah bahagia orang yang akan menerimanya.

Tapi itu dulu…

Sekarang, aku sudah berhenti melakukannya. Bukan. Bukannya aku tidak perhatian lagi. Dulu aku memang pernah mendengar bahwa Rasulullah bahkan tidak mencontohkannya. Tapi, waktu itu aku belum diberi pemahaman dan aku masih melakukannya dengan alasan toh yang aku lakukan baik, aku mendoakan mereka, aku memberi hadiah dan mereka bahagia atas doa juga hadiahku. Tapi kenyataannya, bahwa kalimat/alasan “ini kan baik” “yang penting niatnya baik” dan kalimat sejenisnya tidaklah cukup. Niat baik saja tidak cukup, apakah biat tersebut diiringi amalan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah atau tidak? #smile

Aku memiliki alasan kuat mengapa aku berhenti merayakan ulang tahun, dan meskipun hanya sekedar mengucapkan, “HBD WYATB” (Happy Birthday Wish You All The Best).

Pertama,

Hari raya umat Islam hanya ada 2, sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

 “Setiap kaum memiliki Ied, dan hari ini (Iedul Fitri) adalah Ied kita (kaum Muslimin)” [HR. Bukhari-Muslim]

Jadi hari ulang tahun tidak termasuk ke dalam hari perayaan umat Islam. Di samping itu Allah pun mensyari’atkan hari raya-hari raya lainnya yang mengandung berbagai dzikir dan ibadah, seperti hari Jum’at, hari Arafah dan hari-hari tasyriq. Namun Allah tidak mensyari’atkan perayaan hari kelahiran, tidak untuk kelahiran Nabi dan tidakpula untuk yang lainnya.

Kedua,

Tasyabuh

Dalam buku Parasit Akidah karya A.D. EL. Marzdedeq disebutkan, pesta ulang tahun pertama kali diadakan oleh orang Nasrani Romawi. Mereka menyalakan beberapa batang lilin diatas sebuah kue yang besar. Lilin itu berjumlah sama dengan usia orang yang berulang tahun. Biasanya sebelum tiup lilin, orang yang berulang tahun akan memejamkan matanya sambil menyebutkan harapan (make a wish) dengan tujuan supaya keinginannya dikabulkan. Setelah make a wish, barulah lilin ditiup. Sedangkan waktu sebelum tiup lilin bukanlah waktu mustajab untuk berdo’a, rite? #smile (Coba saja baca-baca artikel shohih tentang waktu dan tempat mustajab untuk berdo’a)

See,  acara ulang tahun itu jelas- jelas bukan aturan Islam yang membawa kebaikan. Kalaupun perayaan itu membawa kebaikan, pastilah Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in sudah terlebih dahulu mencontohkannya.

Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut” [HR. Abu Dawud, disahihkan oleh Ibnu Hibban]

Maka orang yang merayakan Ied yang selain Ied milik kaum Muslimin seolah ia bukan bagian dari kaum Muslimin. Hadist ini tentunya bukan berarti orang yang berbuat demikian pasti keluar dari statusnya sebagai Muslim, namun minimal mengurangi kadar keislaman pada dirinya. Karena seorang Muslim yang sejati, tentu ia akan (berusaha) menjauhi hal tersebut.

Dalam Ash-Shahihain disebutkan, dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.

Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan, seandainya mereka masuk ke dalam sarang biawak pun kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata, “Siapa lagi.”

 [HR. AI-Bukhari]

Kan acara ulangtahunnya juga tidak aneh-aneh. Makan-makan sebagai wujud syukur bahwa kita diberi kesehatan, rejeki, nikmat dan umur yang panjang. Di acara syukurannya juga kita mengadakan acara pengajian, pembacaan Al-Qur’an atau berdzikir. ”  (Pernah ada yang mengatakan ini)

Eits…jangan lupa juga bahwa syukur, doa, dzikir dan istighfar (pembersihan dosa), adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena itu merupakan hak paten Allah dan Rasul-Nya. Rasul kita Shallallahu’alaihi Wa sallam bersabda,

Orang yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak

[HR. Bukhari-Muslim]

Syaikhul Islam, Ahmad bin Abdul Halim al-Harrani mengatakan:

“Ilmu adalah kesimpulan yang ada dalilnya, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”

(Majmu’ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388)

PS:

  1. Memberi hadiah pada saudara, teman atau sahabat bukan hanya ketika sedang ulang tahun. Kita bisa melakukannya kapan saja, ketika ada rejeki misalnya. Itu jauh lebih baik dari pada harus menunda-nunda sampai hari ulang tahunnya tiba.
  2. Mendoakan seseorang juga tidak harus hanya pada hari ulang tahunnya saja. Setiap hari juga boleh, tidak perlu menunggu sampai hari ulang tahunnya tiba barulah mendo’akannya. Jadi jangan sedih ketika hari ulang tahunmu tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun, karena siapa tahu sahabat/kerabatmu mendoakanmu diam-diam tanpa mengatakannya kepadamu. Rasulullah bersabda:

    “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”

    [HR. Muslim]

  3. Setiap hari umur kita makin berkurang, artinya jatah waktu kita hidup di dunia tambah berkurang. Sebenarnya tidak ada gunanya juga perayaan yang mewah, member ucapan selamat atau berharap diberi ucapan selamat ulang tahun. Karena yang seharusnya kita lakukan adalah semakin banyak introspeksi buat pertanggungjawaban kelak dihadapan Allah, bagaimana kelak saat umur kita sudah habis. Ingatlah tentang kematian:
  • Dengan mengingat kematian itu akan membantu kita dalam khusyu saat shalat,
  • Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah,
  • Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidup serta amal ibadahnya.

 See, Islam itu Indah dan Sempurna.

Jadi, maaf karna aku tidak mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” atau “Happy Birthday” atau “zum Geburtstag viel Glueck” dan sejenisnya.

Marilah kita sama-sama mencintai Rasulullah dengan melakukan apa yang beliau contohkan, dan menjauhi perkara yang beliau tidak sukai dan bahkan beliau benci.

Bukankah kita ingin berkumpul bersama Rasulullah di akherat kelak?

Barakallahufikum

Key La

Advertisements

4 thoughts on “Maaf, Aku Gak Ucapin “Selamat Ulang Tahun” :)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s