Bahan Tafakur dari Celotehan Anak-anak

Anak-anak merupakan salah satu favoritku sebagai teman ngobrol: mereka bisa menjadi penghibur, teman berbagi, sumber inspirasi sekaligus menjadi bahan motivasi dan renungan (tafakur). Kalimat mereka yang lugas, jujur, spontan dan lucu itulah jawabannya.

Peristiwa I bersama Sansan (kelas 6 SD).
Suatu hari kami berbelanja, aku memboncengnya dengan sepeda motorku. Ia senang sekali mengobrol dan tak pernah kehabisan bahan obrolan (jika moodnya tidak buruk tentu saja).

“Ka, banyak sekali gambar ya di sini.” Katanya membuka obrolan.
“Maksudnya?”
“Lihat deh, di mana-mana poto calon bupati, calon walikota, calon gubernur!” Curhatnya, aku tertawa mendengar keluhannya yang sesuai dengan kenyataan. “Ada hadistnya tentang memajang gambar mahluk bernyawa kan, Kak?”
“Mahluk bernyawa? Apa saja memangnya?” Pancingku.
“Gambar manusia dan gambar hewanlah… Coba kak, hadistnya gimana?” Katanya semangat.
“Kakak gak hafal bahasa Arabnya, kira-kira artinya begini: Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki oleh malaikat.”
“Iya, yang itu kak.” Sahutnya membenarkan. “Gimana malaikat rahmat mau datang ke kota ini, kalau di sepanjang jalannya dipajang gambar mahluk bernyawa.” Lanjutnya dengan nada prihatin yang mendalam.
“Jadi wajar ya kak kalau kemungkaran terjadi di mana-mana?” Sambung Sansan meminta persetujuanku. “Di Madinah sama Mekah kayaknya enggak banyak yang majang gambar seperti ini deh.”

Peristiwa II
“Kamu suka berdo’a untukku ga sih?” Tanya Kakak kepada Adik yang masih SD.
“Sure, I do!” Jawab Adik, matanya masih fokus pada buku yang sedang ia baca.
“Gimana berdo’anya?” Kakak semangat ingin tahu.
“Top secret lah ya…” jawab Adik jual mahal.
“Suka berdoa supaya aku cepat menikah juga?” Kakak semakin ingin tahu.
“Iya dong!”
“Huwwaaa…. thank you very much….” Kakak memeluk Adik, perasaannya senang sekali.
“Tapi kak, do’aku saja belum cukup, kakak harus ikhtiar juga!”
“Ikhtiar? Maksudnya aku harus ngeceng dan jalan buat nyegatin cowo dan bilang ‘hey guy, will you marry me?'” Kakak menggoda adik yang sok dewasa itu.
Adik meletakkan buku yang sedang ia baca, lalu memandang kakak dengan galak. “Please deh Kakak. Pertanyaanmu tuh kaya orang yang gak pernah kajian deh!”
Bagai terkena petir di siang bolong, kakak pun speechless.
“Kakak kan ngaji, punya ustadz, punya ustadzah, ustadz juga punya istri. Ya kakak minta mereka supaya bisa taarufin kakak, bukannya ngeceng enggak jelas.”
……..

Peristiwa III
Waktu itu kami sedang menjelaskan tentang turunnya surat Al-Maidah ayat 3 yang diturunkan pada saat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berhaji yang terakhir kalinya.
“Memangnya Nabi Muhammad pernah berhaji?” Tanya Lusi, salah satu muridku yang cerewet dan cukup kritis.
“Tentu,” jawabku.
“Tapi, kenapa namanya tidak jadi Haji Nabi Muhammad? Orang-orang kan kalau setelah berhaji nanti namanya ditambah haji, misalnya Pak Haji Sulam.” Lanjut Lusi kritis.

Cerita-cerita di atas adalah kisah nyata yang sengaja kumuat supaya kita sebagai orang dewasa bisa merenung atas komentar dan pemikiran anak-anak yang kritis dan spontan. Sebenarnya banyak pesan moral yang bisa kita dapat ketika berinteraksi dengan anak-anak.
Semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin

Alhamdulillahilladzi bi niโ€™matihi tatimmush sholihaat.

SELAMAT MERENUNG ๐Ÿ™‚

Catatan Tambahan

Hukum Tentang Memajang Gambar Mahluk Bernyawa:

Dari Ali radhiyallahu anhu, dia berkata,

ุตูŽู†ูŽุนู’ุชู ุทูŽุนูŽุงู…ู‹ุง ููŽุฏูŽุนูŽูˆู’ุชู ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูŽู‘ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŽุฌูŽุงุกูŽ ููŽุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ููŽุฑูŽุฃูŽู‰ ุณูุชู’ุฑู‹ุง ูููŠู‡ู ุชูŽุตูŽุงูˆููŠุฑู ููŽุฎูŽุฑูŽุฌูŽ . ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ู…ูŽู„ุงุฆููƒูŽุฉูŽ ู„ุง ุชูŽุฏู’ุฎูู„ู ุจูŽูŠู’ุชู‹ุง ูููŠู‡ู ุชูŽุตูŽุงูˆููŠุฑู

โ€œSaya membuat makanan lalu mengundang Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam untuk datang. Ketika beliau datang dan masuk ke dalam rumah, beliau melihat ada tirai yang bergambar, maka beliau segera keluar seraya bersabda, โ€œSesungguhnya para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar.โ€

(Shahiih; HR. An-Nasai)

Arti QS. Al-Maidah ayat 3

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS: Al-Maidah Ayat: 3)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s