I LOVED Soccer

liverpool-squad
Tema tentang sepak bola sepertinya merupakan tema yang takan pernah habis dibahas. Buktinya, di TL-ku hampir setiap hari ada yang meng-tweet tentang pertandingan sepak bola, klub favoritnya dan sejenisnya.
Aku adalah salah satu Liverpudlian pada sebuah masalalu. I repeat: masalalu. Artinya: itu dulu dan sekarang tidak lagi. I didn’t really care about big match or not, I loved soccer, that was so simple. I couldn’t live without watching soccer, especially my lovely team: Liverpool, Milan and Madrid. Be frankly, i couldn’t even sleep when I skipped their match. It was not normal and lebhay, I mean…as a girl maybe I should watching Jamie Oliver Show or another cooking show not soccer.
Kemudian akupun menyadari sedikit demi sedikit bahwa hubungan kami bukanlah hubungan yang sehat. Perlahan-lahan akupun menurunkan intensitas pertemuan kami, yang tadinya rutin menjadi agak rutin, kemudian jarang, menjadi super jarang dan kemudian lost contact. Putus hubungan. Kami pun akhirnya menjadi mantan. Well… I’m still talking about my relationship with soccer. Susah memang untuk move on tanpa stalking berita tentang mantan (mantan-mantan clup favoritku). Lol. Rasanya hanya mengetahui goal atau klasemen saja sudah cukup. Aku sudah lupa rasanya bagaimana sedih itu jika klub favoritku kalah. Apakah artinya move on ku berhasil? See…I can live without soccer, my life is even much much much better.
 
Okay….
Sekarang aku ungkapkan beberapa alasan yang membuatku berfikir kenapa hubungan kami merupakan hubungan yang kurang sehat bahkan mungkin bisa menuju pada hubungan yang buruk.
Bukan hanya menurut yang kurasakan, tetapi juga berdasarkan beberapa artikel yang kubaca bahwa  terdapat beberapa hal buruk yang ditimbulkan karna menonton sepak bola:
1. kewajiban shalat yang dilalaikan. Misalnya adzan subuh berkumandang dan bertepatan dengan injury time ( tanggung kan ya?) Kalau iman tidak terlalu kuat sih biasanya alih-alih berhenti nonton bola lalu pergi ke masjid ehh malah tetap asik fokus dengan pertandingan. Think smart! Thinks wise! Think well! Kalau nonton bola yang bisa menghabiskan waktu sampai 90 menit bahkan bisa lebih saja bisa, kenapa shalat yang tidak sampai 10 menit sepertinya malah susah delaksanakan (ini ironis kan?). Kalau sudah begitu, cek lagi hati kita. Ada sesuatu di sana yang bisa merusak keimanan kita dan bahkan bisa membuat kita malas untuk mendirikan shalat.
Contoh lainnya ketika pertandingan berakhir pada waktu yang nanggung (sebut saja setengah jam sebelum shalat Subuh). Waktu yang nanggung tersebut bisa membuat galau, jika tidur takut kebablasan, tapi tidak bisa menahan kantuk sampai subuh tiba. Hasil survey amatir mengatakan banyak yang memilih tidur (bisa jadi juga memang ketiduran) dan ujung-ujungnya shalat Subuh jadi kesiangan.
Padahal jika seseorang tahu bahaya meninggalkan shalat, maka tentu ia tidak akan meninggalkannya. Ia tidak akan meninggalkannya meskipun satu shalat saja. Karna meninggalkan shalat termasuk pada dosa besar, maksudnya dosa besar karena sudah meninggalkan rukun iman yang merupakan penegak bangunan Islam.
Sahabat yang mulia, ‘Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidak ada keislaman bagi orang yang meninggalkan shalat.”
Nahloooo?!!!!
2. Pekerjaan Kantor/ Pelajaran di Sekolah terabaikan
Biasanya orang yang tadi malam bergadang bawaannnya jadi mengantuk, setidaknya pekerjaan jadi kurang maksimal dilaksanakan yah kalau mengantuk, lemas atau kurang konsentrasi? Malah jangan-jangan suka ketiduran.
“Kalau mengantuk, minum kopi saja!” Yup, biasanya senjata orang yang senang begadang ialah KOPI. Tapi yakin bahwa kopi itu baik? I don’t think so. Begadang? Kecanduan kopi? It’s not healthy lifestyle at all.
3. Mata bermaksiat dengan melihat aurat orang lain.
Poin ini membuatku berfikir cukup dalam lho. Bagaimana perasaan suamiku (kelak) jikaaku menonton pria-pria yang secara fisik itu ganteng dan keren? Okay, lets make this straight! Sebagai perempuan pastinya aku akan cemburu jika melihat suamiku menonton perempuan-perempuan lain, apalagi jika auratnya terbuka.
Kalau aku  cemburu jika melihat suamiku menonton lawan jenis , dan tentunya suamiku juga akan cemburu jika aku melakukan hal yang serupa.
Win-win solution deh.
4. Waktu begitu sia-sia dan kadang menimbulkan masalah baru.
Hal-hal yang sia-sia itu biasanya dirasakan belakangan. Renungkan saja dalam waktu 90 menit itu, “apa yang bisa aku capai?”
Banyak yang tim-nya kalah malah mengeluarkan kata makian. Bagi yang tim kesayangannya menang malah senang mem-bully orang yang tim kesayangannya kalah. Akibatnya sering terjadi cekcok. Adu mulut yang sama sekali gak ilmiah bermunculan di wall facebook dan timeline twitter. Teman unfollow temannya karna panas. Remove as friend dan yang sejenisnya. Childish ya? Bahkan di tingkat yang lebih maniak malah ada yang berantem beneran segala hehe… Siapa yang tanding, siapa yang berantem ya.
Sedih, jika melihat saudara sesama muslim saling mencela akibat fanatisme terhadap klub sepak bola favoritnya.
5. Musuh Allah jadi idola. Sebenarnya point ini adalah point terpenting dari yang penting.
Firman Allah mengatakan:
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadilah: 22).
Selain itu Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.”
Setelah membaca artikel adikku dan  dan artikel yang berasal dari website terpercaya. Aku yang sempat ngefans pada beberapa pemain sepak bola sering merenung dan berfikir bahwa selama ini aku dikelabui dengan hal yang disebut sebagai “Hobby”. Pemain sepak bola itu kebanyakan bukan muslim, tidak ada yang bisa dicontoh. Mungkin yang bagus hanya penampilan fisik dan penampilan mereka di lapangan. Mereka yang aku idolakan tidak bisa menyelamatkanku ke dalam syurga. Masuk tidaknya seseorang itu ke syurga juga tergantung pada idolanya. Gaya hidup mereka glamour, berbagai skandal, perselingkuhan, freesex (banyak yang mempunyai anak tanpa ikatan pernikahan), gonta ganti pacar, selingkuh, terkena kasus pelecehan sexual, kasus kriminal, menyetir sambil mabuk, berantem di klub malam, DAN LAIN-LAIN. Halllooooo…. itukah yang PANTAS dijadikan idola?
Dari point di atas sudah cukup jelas bagiku untuk tidak lagi menonton bola dan mengidolakan para pemainnya. Paling aman bagiku untuk saat ini adalah kepo-kepo di TL. Dan alangkah lebih baik lagi jika kepo-keponya terhadap kisah Rasulullah dan para sahabat, bagaimana cara beribadah yang benar, apakah wudhu, shalat serta ibadah kita yang lain sudah sesuai dengan contoh Rasulullah? Itulah yang seharusnya kita “KEPO-in“.
Seorang teman pernah berkata kepadaku begitu ia mengetahui bahwa aku berhenti menonton bola, “Key…hidup itu harus seimbang. Ibadah itu memang perlu, tapi jangan lupa bahwa hiburan juga perlu. You know, balance.”
Seimbang? Dari mana kita tau seimbangnya seperti apa? Apakah dengan menonton bola 90 menit kemudian shalat 10 menit itu bisa dikatakan seimbang? #Lets #Smile 🙂
Dalam waktu 90 menit, kita dapat melakukan hal yang lebih berguna dan bermanfaat daripada menonton bola, misal: membaca tulisan yang bermanfaat, menjahit, menulis artikel bermanfaat, bersih-bersih, dan masih banyak kegiatan yang jauh lebih bermanfaat lainnya.
Ok then….
Semoga ke depannya kita bisa menjadi lebih baik. Aamiin
Wallahu waliyyut taufiiq.
Key
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s