All About Twitter V: Kecanduan Twitter/Sosmed

Bertwitter-ria memang mengasyikan, apalagi ketika aku merasakan lelah dan penatnya melakukan berbagai pekerjaan. Misalnya setelah tiga jam duduk di depan mesin jahit, lalu rebahan sambil twitteran merupakan kegiatan yang menyenangkan sekaligus merefresh otak dan tenaga. Tapi kadang, niatnya hanya cek TL cuma 5 menit, jadi ketagihan untuk mmperpanjang waktu juga deh.

Contoh kasus:

Niat awal: Cek  TL @AkunSemogaDibaca deh sebentar aja. Kenyataan: lama-lama stalking kultwit @BacaTLkuDong_, kemudian pindah stalking ke @BacaAkuBacaAku begitulah selanjutnya. Yang lain juga suka gitu kan? iya kan *Bukan nama akun sebenarnya*

Wah…masyaAllah! Dia udah pergi umrah lagi? Jadi dia udah 4 kali umrah? Aku kapan? *envy*

*Ketika membuat jus* Wah…warna jus semangka ini bagus banget! Upload ke twitter lalu cc ke @erikarlebang dengan hashtag #foodcombining sepertinya oke.

Eh ada apa nih akun fulan/fulanah? TL penuh dengan twit mereka? Jangan-jangan mereka twitwar. Eh, lihat deh twit sebelumnya supaya lebih jelas *akhirnya stalking TL orang*

Saking asiknya, timeline terlihat indah dan menawarkan berbagai hal yang bisa melupakan masalah kita hanya dengan gerakan jempol saja. Semenarik apapun, jangan sampai dunia nyata terlihat tidak lebih menarik daripada TL. *sounds horror*

Jujur, akupun  pernah merasakan betapa betenya tak bisa twitteran karena gadget mati, gadget ketinggalan atau kehabisan pulsa (dan katanya ini salah satu tanda bahwa kita sudah mulai kecanduan).

Walaupun dunia nyata itu lebih menyenangkan daripada dunia twitter atau dunia maya. Tapi tidak sedikit orang yang mengabaikan pekerjaannya atau orang-orang di sekitarnya karena lebih fokus pada dunia maya (ini juga tanda salah satu tanda seseorang sudah masuk  level kecanduan)

Kecanduan twitter/sosmed/internet bukanlah hal yang bagus, malah bisa berarti bahaya. Aku pernah baca di suatu artikel (sumbernya aku lupa), katanya jika seseorang sudah nge-twit lebih dari 6 jam sehari maka orang itu sudah masuk pada level kecanduan yang cukup berbahaya. Yaiyalah bahaya! He must be lost his mind! 6 hours in twitterland?  I mean…6 hours is enough for me to sew an abaya.

Jadi, apa yang harus seseorang lakukan jika ia (mulai) kecanduan twitter/sosmed/internet?

Aku share kiat-kiat yang sudah kupraktekan untuk diriku ya….

    • Batasi jumlah twit. Misal: yang biasanya 40 twit/hari, menjadi 20twit/hari.
    • Buat jadwal twitteran. Misalnya, jadwal twitteran setiap pukul 8 pagi dan 8 malam. Dua sesi itu masing-masing berdurasi 15 menit dan bebas nge-twit berapapun yang dimau, asal hanya 15 menit aja. Itu menyenangkan juga. Seperti ikutan quiz, hehe…
    • Batasi Keterlibatan. Yang biasanya jadi orang gahol di twitter, sahut sana dan sahut sini. Cobalah untuk menahan godaan untuk berkomentar, membahas, mengobrol, ngerumpi dan sejenisnya. Kalaupun ingiiiinnn banget, cukup komentar/bahas sesuatu yang memang benar-benar penting/bagus untuk dibahas.
    • Istirahatkan jempol. Sesuaikan waktu istirahat jempol dengan kepentingan kita. Misalnya, Senin-Jum’at tidak twitteran sama sekali karena kita harus fokus dengan pekerjaan-pekerjaan kita. Ketika libur/weekend barulah waktunya twitteran. Jangan sampai mengabaikan keluarga juga. Misalnya: ketika sedang mengobrol, tangan dan mata kita sibuk ke gadget. Itu juga tidak baik.
    • Tutup aplikasi pendukung. Uninstall aplikasi twitter di semua gadget. Twitteran hanya menggunakan opera mini atau browser lainnya berbeda dengan twitteran menggunakan aplikasi khusus twitter. Tahu bedanya kan? Iya, kalau twitteran di operamini, enggak akan ada nada notifikasi jika ada mention.
    • Carilah kegiatan yang lebih banyak menyibukan diri kita di dunia nyata. Misalnya: Berolahraga/jogging 1 jam setiap hari. Berolahraga selain baik untuk tubuh dan wajah, juga baik untuk pikiran kita. Caba saja!
    • Pikirkan ibadah apa yang belum dikerjakan hari ini. Kadang kita merasa sebentar menghabiskan waktu berjam-jam di twitter. Tapi merasa lama walau hanya 15 menit berdzikir setelah shalat fardu. Itu artinya ada yang salah dengan keimanan kita.
    • Replace! Gantikan kegiatan twitteran dengan kegiatan lebih bermanfaat. Apakah kita sudah hafal surat al-Mulk? Al ‘Ala? 10 ayat Al Kahfi? 2 ayat terakhir surat al Baqarah? Surat-surat di juz 30? Cari tahulah keutamaan-keutamaan dalam menghafal ayat-ayat tersebut, lalu bandingkanlah kebaikan yang didapat dari menghafalnya denga kepuasan saat twitteran. #NTMSbanget
    • Bersosialisasi dengan dunia nyata. Misalnya bercengkrama dengan keluarga atau berkunjung ke tetangga dan ketika bersama mereka, matikan atau silent semua gadget jika perlu.
    • Bercengkrama dengan buku dan artikel bermafaat. Mereka selalu menunggu untuk disentuh dan dibaca lembar demi lembar. Jangan sia-siakan penantian mereka.

Akhirnya curhatanku tentang twitter selesai pada edisi-5 (haha…mirip tersanjung) dan aku lega sudah mencurahkan  segala tentang twitter yang sudah bikin aku kepikiran seminggu terakhir ini. Sebenarnya cukup terkejut juga mengetahui hal-hal yang aku pikirkan ternyata jika ditluis bisa sampai sebanyak ini. :)))

Sebenarnya siapapun yang membaca ini pastinya sudah paham dengan yang kusampaikan. Artikel ini kubuat bukan untuk mengajak berhenti bertwitter kok, tapi lebih cenderung untuk bisa menggunakan twitter dengan cerdas dan bijaksana (khususnya aku sendiri) #ntms

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf:18)

**TAMAT**

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s