Aku bukan Jurnalis, Aku Hanya (Sangat) Suka Menulis.

T shirt back

Aku suka berfikir (lebih tepatnya berbicara dengan diri sendiri).

Duniaku adalah pikiranku

Pikiranku adalah temanku.

Jadi, Duniaku = temanku.

Yup, mungkin karena sifat dasarku “Melankolis” Melankolis sepertiku sering (sekali) memikirkan segalanya secara mendalam, menganalisa dan mempertimbangkan. Hal sepele saja bisa menjadi SUPER HEADLINE dalam pikiranku sendiri. Berpikir sendiri, menganalisa sendiri, mempertimbangkan sendiri, tanya-jawab sendiri dan menyimpulkan sendiri. Kadang ini merupakan suatu yang baik, kadang malah sebaliknya.

And the point is: I like to be alone and  it is okay to be surrounded by people. “Berbicara dengan diri sendiri” sambil menganalisa akan sesuatu sepertinya tak akan lepas dari kehidupanku. Kau tahu? Selalu saja ada topik pembicaraan saat aku hanya berdua dengan “pikiranku”: ketika mandi, dalam perjalanan kendaraan, memasak, mencuci atau mengerjakan rumah tangga lainnya, berjalan sendirian, menjahit, berolahraga dan lain sebagainya.

What’s on my mind? kehidupanku, jadwalku, hobiku, desain pakaian, postingan di blog, food combining, rencanaku dan banyak lagi. Terkadang muncul ide (brilian) dan kadang juga kegalauan. Fiuhhh…itulah pikiran.

Hmmm…walau sering berfikir, aku merupakan tipe orang yang mudah lupa dengan apa yang aku pikirkan. Oleh karena itu jurnal, active notes di ponsel, Ms.Word di PC, kertas + alat tulis, bahkan tisu  adalah barang-barang yang memiliki peranan penting bagiku, bagi pikiranku, bagi “duniaku”.

Menulis, membuatku bisa merekam hal-hal yang telah kualami, terutama tentang hal-hal penting yang terjadi dalam hidupku. Well…aku kan tidak bisa begitu saja mempercayakan otakku untuk menyimpan banyak informasi, kenangan dan ide dalam jangka waktu lama. Too risky. Lagipula, kepalaku bisa panas dan meledak jika tak segera menumpahkan pikiranku pada tulisan.

Another reason, writing is healing and refresing. Just find a time and place where I won’t be disturbed, then I’ll write only for myself. And I don’t give a damn about spelling or grammar during writing.

Setiap menulis, ketika itu juga aku merasa diberi kesempatan untuk duduk-diam hanya bersama pikiran-pikiranku. Aku memang hidup di mana manusia cukup baik dalam bersosialisasi, mereka doyan mengobrol dan bercanda. Begitupun aku.

Aku menyukainya, karena bersosialisasi itu perlu dalam bermasyarakat. Tapi kupikir bahwa duduk sendiri hanya aku dan pikiran-pikiranku merupakan hal yang penting juga.

Writing for me is refreshing, calming and helps to keep me peaceful in a very frantic world.

Menulis, sebagaimana yang telah kusampaikan di “About Me”, aku ingin suatu hari anakku dan orang-orang yang kusayangi bisa mengetahui apa saja yang telah kulalui, kubaca dan kupikirkan.

Berfikir dan menulis bagiku mempunyai hubungan yang cukup erat, mereka tak bisa dipisahkan. Dengan banyak berfikir, aku bisa menulis. Dengan terbiasa menulis, aku selalu mempunyai topik untuk dibahas dengan diriku sendiri. Dengan terbiasa menulis pula, aku tahu buku apa yang aku perlukan. Membaca buku sedikit-banyak akan mempengaruhimu.

Dan akhirnya sekarang kesimpulanku sementara adalah: berfikir-menulis-membaca merupakan tiga serangkai yang saling membantu dan membutuhkan.

PS: keep writing 🙂

key la

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s