Kenapa Aku Tak Memajang Photo (Wajahku) di Sosmed?

“Key…kenapa sih avatar twitter, wechat, whatsapp-mu bukan photo wajahmu, kalau bukan maple leaf, tulips, slogan atau cewe kartun bercadar.”

“Mana potomu? Kenapa meng-upload photo buah-buahan, minuman, makanan, pemandangan dan benda-benda melulu sih? Kamu mana?”

Itu adalah beberapa protes teman-temanku karena aku tidak mengupload potoku di sosmed manapun lagi. Lagi? Iya, kuakui bahwa dulunya aku jenis cewe dengan hobi photo (kapan saja, di mana saja, sedang melakukan apa saja) yang kemudian mengupload potonya hampir setiap hari ke sosmed: Friendster dan Facebook.

But it was my past!

Aku mengenal Friendster dan Facebook jauh lebih dulu daripada ngaji ilmu syar’i. Ketika friendster sedang hits, saat itu aku berada di Jerman. Jadi, aku mengupload banyak photo merupakan suatu kebutuhan supaya aku bisa berbagi dengan keluarga dan teman-teman di Indonesia. Lagipula, tidak sembarang orang bisa mengakses poto-potoku, karena sengaja akun FS-ku diprotect agar hanya orang-orang yang kuizinkan saja yang bisa mengaksesnya.

Begitupun dengan facebook.

Dengan memiliki akun di sosmed, setiap moment sepertinya sangat penting untuk diabadikan dengan kamera lalu diupload: sedang makan, sedang kumpul dengan teman-teman, acara keluarga, pergi ke taman, olahraga dan bahkan sebagian orang ada yang suka berpose di kamar mandi.

Ketika aku mulai mengaji, akupun berteman dengan beberapa teman akhwat di FB dan tak ada satupun poto diri mereka yang diupload di FB-nya.
Aku membatin, “pasti ada alasan kenapa mereka tidak meng-upload poto mereka. Bukan karena wajah mereka, karena wajah mereka tidak jelek dan bahkan lebih dari cantik. Tapi cantik mereka cantik yang epic.” (Kuharap kau tahu maksudku)

“Kenapa tak ada satupun poto wajahmu di FB?” Tanyaku suatu hari pada Honey.
“Bahaya!” Jawabnya singkat.
Aku mengernyikan dahi, “bahaya? bukankah dengan memasang poto di Fb supaya teman kita mengenali bahwa FB itu mipik kita? Oh ini Honey teman SMA-ku. Begitu contohnya…”
Honey tersenyum, “trust me, without photo it still works. My friends still recognize me.”

Saat itu, aku masih merasa gagal paham.

“Dengan mengupload poto, itu bisa menimbulkan banyak mudharat. Pertama, bisa menimbulkan fitnah kepada lawan jenis. Kamu mau, jika potomu didownload oleh laki-laki dan dimanfaatkan untuk hal yang aneh-aneh?” Tambah Honey.

Aku menggeleng cepat. Yeah, aku memang sering mendengar banyak kasus tentang poto vulgar dan ternyata itu hasil editan, poto seperti itu biasanya digunakan untuk memfitnah, menyerang dan mengancam.
Meskipun aku mengupload photo tanpa niatan untuk menggoda laki-laki, toh yang namanya kejahatan bisa terjadi karena adanya kesempatan. Tak menutup kemungkinan bukan, lelaki yang imannya sedang tidak dalam kondisi baik menjadi tiba-tiba tergoda karen melihat photo seorang perempuan.

“Kamu rela jika wajahmu dilihat oleh siapa saja? Bukan oleh suamimu kelak, mahrammu dan bahkan oleh siapapun yang tak kau kenal?”

Aku berfikir dan mengakui dalam hati bahwa aku sempat menyepelekan point ini. Tak sedikit lelaki yang pastinya mempunyai hobi mengoleksi photo wanita. Bisa saja mereka mempergunakan photo itu untuk melengkapi daya khayal mereka akan wanita. Aku begidik.

“Dengan tidak memajang poto di sosmed, itu akan membantu para lelaki untuk menjaga pandangan hingga mata dan hati mereka tidak ‘terfitnah’.”

“Belum lagi dengan mengupload photo di sosmed, sadar tidak sadar bisa menimbulkan keinginan untuk bertabarruj. Rata-rata cewek kan tidak mau terlihat jelek saat dipoto, dan tentunya tidak mau mengupload poto yang terlihat jelek. Pasti ia memilih yang paling baik dan paling cantik, tanpa mempertimbangkan bahwa potonya bisa dilihat oleh siapa saja.”

Dan sejak saat itulah, aku menghapus poto-potoku yang sempat kuupload di internet.

Lama-lama ada poin penting yang juga kusadari. Jika aku mengupload potoku ke internet dan suatu saat aku melakukan proses taaruf dengan seorang ikhwan. Kupikir proses nadzor menjadi bukan sesuatu yang terlalu sakral dan spesial jika ikhwan tersebut mendapatkan banyak photoku di internet. Lagipula, dengan begitu calon taaruf bisa berfikir, “yang tidak melalui proses taaruf saja bisa melihat poto-potonya.”

Kesimpulannya: kita tidak menjadikan diri kita spesial sekaligus tidak menganggap (calon) pasangan kita juga spesial.

Jadi, mulai saat itu aku berprinsip. Hanya yang serius untuk menjadi suamiku yang boleh melihatku. Titik!

Lalu belakangan aku mengetahui bahwa, mesasang poto di sosmed dapat mengundang penyakit ‘ain pada  si pemilik poto.

Untuk lebih jelasnya, bisa buka link berikut:

Apakah ‘Ain bisa Melalui Foto?

Penyakit ‘Ain

Jadi inilah jawabannya kenapa aku tidak memajang photo wajahku di sosmed 🙂

key la

Advertisements

One thought on “Kenapa Aku Tak Memajang Photo (Wajahku) di Sosmed?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s