Dwelling on the past only causes you to neglect the present and lose sight of the future. Let it go!

Schwaningen 2008a1

Garis-garis putih di Kalvarieberg itu adalah jalur-jalur biasa digunakan hiking.

Desember 2007

Qila tidak menyukai dinginnya winter yang biasanya berlangsung antara bulan September sampai dengan April. Mungkin lebih tepatnya Ia tidak menyukai ketika ia merasakan kedinginan. Yeah… bila bule-bule di sini hanya cukup mengenakan sweater atau jaket ringan, artinya ia harus mengenakan dua sweater dan syal. Saat suhu udara lebih rendah dari 0˚C, Qila harus menjadi monster tumpukan pakaian untuk melawan hawa dingin tersebut. Kaos hangat, cardigan, sweater, strumphose, jilbab, mutze, syal, sarung tangan dan jaket winter.

Hari itu tanggal 17 Desember 2007, ia bersama Elisabeth Regensburg (sahabat baiknya selama di Jerman) mendaki bukit Kalvarienberg. Walaupun udara dingin, mereka tetap harus menyempatkan diri berolahraga selama 1 jam setiap hari. Olahraga akan membuat kesehatan, stamina dan berat badannya terjaga mengingat nafsu makannya yang cukup besar selama musim dingin.

“Ngomong-ngomong, kriteria yang kau mau itu seperti apa?” Tanya Elisabeth saat mereka sudah memasuki kawasan perumahan di Schwaningen.

“Good, smart, gagah, kuat, tahan banting, hangat…” Elisabeth pun mendengar tertawa jawaban Qila.

“Oh Qila, untuk gadis Asia yang selalu bersembunyi di bawah tumpukan baju tentu saja kau selalu membutuhkan kehangatan haha…” ujar Elisabeth menggoda. Mereka tertawa lagi.

“Kau bisa mengirimkan detailnya padaku via email.” Lanjutnya.

“Oke, terimakasih banyak atas bantuanmu.”

Akhirnya mereka berpisah di persimpangan antara jalan Hauptstrasse dan Schwaningenstrasse.

 Seminggu kemudian.

“Wie findest Du?” (Bagaimana menurutmu?) Tanya Elisabeth excited ketika Qila mengunjungi rumahnya. Ia memegang kertas berisi data lengkap Ji yang dikirim via email kemarin.

“Total super!!!” Qila bahkan tak bisa menyembunyikan rasa sukanya.

“Jadi kau setuju?” Elisabeth meminta kepastian.

“Tentu saja!” Qila bersemangat, bola matanya membesar.

Elisabeth menarik nafas. “Baiklah jika kau setuju, kurang dari sebulan lagi kau bisa bertemu dengannya.” Tambah Elisabeth.

“Echt?” (Benarkah?) Qila terperangah tak percaya. “Secepat itu?”

“Natürlich!” (Tentu saja) Jawaban Elisabeth membuat Qila semakin harap-harap cemas.

 Pertengahan Januari 2008

“Qila, kom schnell bitte! Dein Telefon kliengt immer lauter!” (Qila, cepat sini! Telfonmu berdering semakin keras). Linus, bocah 5 tahun itu memanggil Qila dari tangga basement saat ia baru keluar dari Kuhlraum mengambil beberapa botol jus Apel. Kuhlraum = Kuhl (Dingin), Raum (Ruangan), Kuhlraum adalah kulkas seukuran kamar.

“Ja, komme gleich!” (Ya, aku datang) Qila mempercepat langkahnya menuju tangga.

“Gib mir die Flaschen, ich helfe dir Kheera.” (Sini botolnya, kubantu) Sahut Linus ketika Qila sudah sampai di tangga, Linus mengambil keranjang berisi botol-botol itu di tanganku.

“Danke schoen Linus, du bist sehr sehr nett!” (Terimakasih banyak, Linus. Kamu benar-benar baik).

“Ich weiss es schon!” (Aku juga tahu) Sahutnya percaya diri.

Qila pun segera berlari menuju kamarnya yang berada di lantai 3, telponnya masih berdering.

“Hallo, Qila hier.” (Hallo, dengan Kheera di sini) Sapanya sambil menahan diri agar nafasnya tidak terengah-engah.

“Hallo, Qila. Ji ist schon hier, soll ich ihn zu dir bringen. Oder kommst du hier?” (Hallo, Qila! Ji sudah di sini, kuantar dia ke sana? Atau kau yang kemari?) Kata Elisabeth to the point.

“Echt! Ji ist schon hier?” (Benarkah?? Ji sudah datang?) Qila  terperangah dan senang. “Seit wann?” (Sejak kapan?)

“Gerade, und?” (Baru saja, Jadi…?)

“Ich kome zu dir jetzt. Biss dann!” (Aku kesana. Sampai ketemu) Jawab Qila cepat dan pasti. Kemudian dengan tumpukan pakaian winter, ia pun melakukan sprint menuju rumah Elisabeth.

Akhirnya Qila dan Ji bertemu. Ji lebih dari yang ia bayangkan sebelumnya: gagah, elegant, unbreakable, cute, smart, keren! Sulit membedakan antara apakah Ji begitu mempesona ataukah Qila yang terpesona. Whatever!  Pilihan Elisabeth amat tepat untuknya.

Sore itu juga Qila membawa Ji ke rumah Hauptstraße nomor 1. Ia memperkenalkan Ji pada keluarga Wekerle, mereka pun menyukai Ji.

“Apakah aku bisa bermain bola bersamanya?” Tanya Linus, di kepalanya selalu tentang sepak bola, sepak bola dan sepak bola. Qila melirik Ji lalu mengangguk. Linus melompat-lompat kegirangan.

Tidak memerlukan waktu yang lama untuk membuat Qila dan Ji dekat satu sama lain. Ji selalu membuatnya merasa betah. Ji menyenangkan, hangat, tidak protes ketika Qila menangis, tidak cerewet ketika Qila makan banyak di hadapannya, tidak bawel ketika Qila tertawa sampai terpingkal-pingkal, ia bahkan tidak terlihat kecewa ketika Qila menemuinya dalam keadaan kusut bangun tidur sekalipun.

Ji memang berhasil mengambil separuh dari hati Qila, sekaligus tidak membuat orang-orang dekat Qila merasa sosoknya terambil. Bahkan Ji membuatnya semakin dekat dengan mereka, baik dengan keluarga Wekerle terlebih dengan keluarga Qila di Indonesia.

Sahabat-sahabatnya di Jerman pun menyukai Ji, mereka bilang bahwa Ji itu super cool dan aku beruntung memilikinya. Most of all, Qila bersyukur pada Allah bahwa ia memiliki Ji.

September 2008

Ji dan Qila memang tak terpisahkan. Akhirnya saat Qila harus kembali pulang ke Indonesia, Ji pun ikut bersamanya. Keluarga Qila tentu saja menyambut kehadiran Ji dengan senang hati. Ji bisa dengan mudah dan cepat mengambil hati siapa saja yang ditemuinya. Tak terkecuali adik-adik Qila: Marisol, adik pertamanya yang pundungan dan tak begitu neko-neko. Marimar, adik keduanya yang perfeksionis bahkan mengakui bahwa Ji lebih dari keren. Sansan, adik bungsunya selalu bisa terhibur oleh kehadiran Ji di depannya. Mereka benar-benar menyukai dan menyayanginya.

Tak memerlukan waktu pendekatan yang lama bagi Ji dengan keluarga Qila, . Sayangnya, ada satu kendala dalam komunikasi Ji dengan orangtua Qila, kendala bahasa. Ji hanya menggunakan bahasa Jerman dan Inggris, sedangkan orangtua Qila hanya mengerti bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Tapi itu bukanlah masalah yang besar, Ji masih tetap bersama Qila.

Singkat cerita, pertengahan tahun 2012 Ji mulai sakit-sakitan, ia tidak sefit ketika mereka baru bertemu walaupun penampakan luarnya selalu terlihat baik-baik saja. Qila merasa sangat sedih walaupun hanya membayangkan jika Ji tidak bersamanya lagi. Baginya, Ji tak tergantikan dan Qila memang berfikir bahwa sepertinya tidak ada (yang lebih baik dari)  bisa menggantikan Ji.

 Setelah dibawa kesana-kemari untuk memperbaiki kondisi Ji. Qila harus menerima kenyataan bahwa organ penting Ji telah rusak dan Ji memang takan bisa bertahan lebih lama lagi. Sedikit-banyak Qila terpukul menyadari hal itu. Baginya, Ji adalah soulmate dan karenanya ia selalu berusaha mempertahankan Ji.

 Akhir tahun 2012 Ji benar-benar ‘pergi’. Allah memutuskan bahwa kebersamaan Qila dan Ji cukup sampai di situ. Keluarga dan sahabatnya menasehati agar Qila tidak terus-menerus terhanyut dalam kehilangannya, mereka berharap bahwa Qila benar-benar bisa mengikhlashkannya. Walaupun berat, ia harus bisa mengikhlashkan kepergian Ji pergi.

Namun yang kadang-kadang membuat Qila merasa sedih ketika ia mengingat kenapa Ji harus pergi di saat ia mulai ngaji, bahkan mereka banyak menghabiskan waktu dengan mp3 murotal dan kajian kira-kira setahun terakhir sebelum kepergiannya.

Everything happens for the reason. Semua yang terjadi pasti memiliki alasan dan tujuan, tugas utamanya adalah terus berfikir positif pada apapun yang terjadi padanya. Ia harus bisa melakukan segala sesuatu walau tanpa Ji.  Akhirnya lama-kelamaan ia mengikuti saran keluarga dan sahabatnya untuk mencari pengganti Ji. Seperti biasa, ia mensortir beberapa data hingga menemukan satu yang paling cocok.

Singkat cerita, akhirnya Qila menemukan pengganti Ji bernama Phee. Sebelumnya ia telah bertanya pada banyak orang tentang Phee dan hampir semuanya bilang ‘oke’.

Jika dibandingkan dengan secara fisik, tentu saja Phee masih kalah jauh. Ji bisa melakukan semua yang Phee bisa. Tapi tidak semua yang Ji bisa, Phee juga bisa.

Really big issue for her, ia masih sering membandingkan mereka berdua pada sebulan pertama bersama dengan Phee. Tentu saja ia menyadari bahwa itu merupakan masalah. Kenapa ia menyebut itu masalah?

Membanding-bandingkan adalah masalah.

Membanding-bandingkan membuat manusia seperti terperangkap (dengan masalalu). Dan Qila jelas-jelas mengetahui bahwa ia dan Ji takan lagi bersama. Yang paling penting, ia hidup di masa kini bersama Phee.

Membanding-bandingkan baik secara fisik, sifat atau kualitas bukanlah cara yang cool. Itu bahkan membuatnya seperti tidak mensyukuri yang sekarang ia miliki. “Come on Qila, you have to move on!” Batinnya menyemangati.

Dwelling on the past only causes you to neglect the present and lose sight of the future. Let it go!!!!

Setiap manusia memang harus berusaha untuk mensyukuri, mencintai dan menjaga baik-baik apa yang dimilikinya.

Qila tidak akan merasa baik jika pikirannya terus mengatakan bahwa itu tidak baik. Jika ia terus-menerus merasa bahwa Ji tak tergantikan dan tak ada yang lebih baik darinya, maka selanjutnya yang terjadi seperti apa yang ia pikirkan. Artinya: ia takan bisa melangkah kemana-mana.

Jadi, apa arti kehadiran Phee untuknya? Jika terus terperangkap dengan Ji (masa lalu), ia tidak hanya telah berbuat tidak adil pada Phee (masa kini), tapi juga pada dirinya sendiri.

 Most of all… manusia (harus) mencintai dan mensyukuri apa yang ia punya (saat ini). Bagi Qila saat itu adalah Phee. Ketika rasa membanding-bandingkan itu ada, manusia harus bisa berfikir dengan bijak.

Bagi Qila…

Bersama Ji, banyak waktu menyenangkan yang yang telah dilewati bersama.

Bersama Phee, karena Qila sudah ngaji dan hijrah total, alhamdulillah ia dan Phee melewatkan banyak kajian bersama-sama, Phee telah membantunya dalam menghafal surat-surat di juz 30. Dengan Phee pula ia mendapat dan membaca berbagai artikel tentang ilmu syar’i. Qila menghabiskan banyak waktu dengan Phee untuk menuntut dan berbagi ilmu. Keindahan dan kebahagiaan tersebut yang ternyata tak ia dapat dari Ji yang pernah divonis sebagai sosok yang komplit

Yeah…meskipun Phee memiliki banyak kekurangan dibanding Ji, tapi kebersamaannya dengan Phee jauh, jauhhh lebih berkualitas dari waktunya dengan Ji.

Moral of the story:

  • Allah menentukan segalanya memiliki tujuan, kadang tidak saat itu juga manusia mengetahuinya. Semuanya memang butuh proses dan waktu.
  • Aku bersyukur bahwa aku telah memiliki Ji dan Phee dengan segala kebaikan mereka.
  • Terimakasih Ji, terimakasih Phee. Terimakasih Allah, jadikanlah mereka bermanfaat bagi akhirat dan duniaku. Aamiin

PS: Ji dan Phee sebenarnya klik di sini

 

key la

Advertisements

One thought on “Dwelling on the past only causes you to neglect the present and lose sight of the future. Let it go!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s