“Ji” dan “Phee”

Aku telah menceritakan tentang “Ji” dan “Phee” dalam postinganku sebelumnya. Bisa dibaca jika dengan klik di sini

Qila sendiri adalah aku. Oma Barbl adalah satu-satunya yang memanggilku dengan panggilan “Qila”.

Di postingan ini, aku akan menceritakan tentang “Ji” dan “Phee” lebih detail.

Ji

Ji 1a

Ji adalah laptop pertamaku dari bangsa Hewlett-Packard Pavilion D2000. Aku membelinya online saat aku berada di Jerman di sebuah situs yang bernama hoh.de. Yup, sahabat baikku yang membantuku, ia seorang ilmuwan kimia sekaligus seorang programer. Well…menyadari bahwa aku tidak begitu mengenal dunia komputer dan sejenisnya, jadi kukonsultasikan keinginanku pada Elisabeth.

Aku ingin sebuah laptop yang  bagus, smart, gagah, kuat, tahan banting, awet, blablabla…dan terjangkau (pastinya!!!)

Elisabeth bertanya padaku, “laptop untuk keperluan apa? office? design? game? atau yang lain?”

“Design grafis!” Saat itu aku memang berencana untuk melanjutkan studi dengan mengambil kuliah design grafis, jadi aku memerlukan laptop yang menunjang studi-ku. “Memangnya kenapa?”

“Sebelum membeli laptop, kau harus benar-benar mengetahui kebutuhanmu. Kau takan buang-buang uangmu kan untuk membeli laptop sangat canggih padahal kau memerlukannya hanya untuk kebutuhan menulis atau mendengarkan mp3?” Sahut Elisabeth.

“Karena kau memerlukan laptop untuk kebutuhan design grafis, nanti aku carikan. Apa kau ingin merk-merk tertentu? Design Dell memang menarik, tapi untuk mobilitas kusarankan dari HP karena HP tahan banting.”

“Mengingat kecerobohan dan mobilitasku aku memang memerlukan yang lebih tahan banting,”

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya aku membeli HP Pavilion D2000 seharga 800 euro (tabunganku selama 3 bulan). Jika ingin DVD original Vista, maka aku harus menambah ekstra 100 euro. (Saat itu kurs euro-rupiah mencapai Rp.16.000).

Seperti yang telah kuceritakan, Ji memang lumayan besar berperan selama kurang-lebih  5 tahun kami bersama. Guess what? Aku tidak meneruskan studiku, baik itu design grafis, animasi, guru TK atau Psikologi. Jadi, program yang kupakai sebagian besar adalah office. Adobe photoshop, Adobe Firework, Corel hanya sesekali digunakan. Nvidia G-force yang dimiliki sangat berperan besar dalam kelancaranku di The Sims dan Warcraft. Like I told ya, we had so much fun together.

Dan Elisabeth benar. Ji memang tahan banting.

Aku pernah tak sengaja menyenggol se-mug besar teh manis ke keyboardnya. Kumatikan, kunyalakan lagi dalam waktu kurang dari 1 jam, alhamdulillah dia baik-baik saja.

Pernah juga, tak sengaja aku menumpahkan minuman dingin (lagi-lagi) ke keyboardnya. Alhamdulillah “Ji” baik-baik saja. Laptop temanku langsung rusak begitu terkena tumpahan air, mirip-mirip kasusku.

Bukan itu saja, Marimar pernah tak sengaja menjatuhkannya dari kasur. Alhamdulillah dia baik-baik saja.

Banyak sih kelebihan “Ji”, tapi… aku tidak mau kembali pada masalalu. 🙂

Phee

Phee

Phee berkebangsaan ASUS Eee PC Flare Series. Aku memilih warna ungu karena itu adalah warna kesukaanku. Lupa kapan detailnya aku membeli netbook ini.

Kenapa memilih netbook?  Aku memilih netbook dengan berbagai pertimbangan, diantaranya:

  1. Aku tidak memerlukan laptop yang canggih karena kebutuhanku sekedar mengetik, browsing, blogging, photo editing, mp3 dan program ringan lainnya.
  2. Netbook jauh lebih ringan.

Intinya: Ji bermanfaat, tapi Phee jauh lebih bermanfaat, khususnya dalam mendukungku untuk menuntut ilmu syar’i.

Dalam postingan Dwelling on the past only causes you to neglect the present and lose sight of the future. Let it go! aku memang sengaja tidak menjelaskan bahwa Ji dan Phee adalah laptop dan netbook.

Karena banyak manusia (yang kutemui) kadang masih terjebak atau mengingat-ingat masalalunya. Masalalu seseorang relatif, ada yang barang, pasangan, sahabat, pembantu, pekerjaan, anak dan lain sebagainya.

Ji dan Phee hanya sebagai wakil atau contoh dari sebuah masa lalu dan masa kini.

Ji dan Phee merupakan suatu bukti tentang perbedaan cara pandang seseorang pada suatu hal. Kebanyakan manusia menilai sesuatu dri dzahir/wujudnya, bukan dari isi atau manfaatnya.

Dari situ bisa kusimpulkan bahwa kebanyakan manusia mendahulukan kepentingan dunia dari pada kepentingan akhirat.

Dalam dua postingan-ku ini aku hanya ingin menyampaikan: terperangkap dengan masalalu tidak akan membuatmu lebih baik, bukan hanya jalan di tempat tapi kau juga  bisa mundur ke belakang.

Khusnudzan kepada Allah, karena Allah memberikan yang kau butuhkan, bukan yang kau mau. Karena bisa saja yang kau mau itu akan ‘mencelakakan’, bukan saja dunia-mu tapi juga akhirat-mu. Na’udzubillah min dzalik.

key la

Advertisements

One thought on ““Ji” dan “Phee”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s