Sahabat, Waktu (seakan) Tak Pernah Cukup.

cup of cofee

Akhirnya aku menikmati kopi ini, sendiri sih. Tanpa kamu, seperti yang sudah sering kita rencanakan. Alhamdulillah ala kuli hal

Senin, 2 September 2013. Di sebuah cafe, yang kurencanakan dimana kami bisa berbagi cerita bersama.

Tahun 2007 , ketika aku akan pergi ke Deutschland, waktu terasa takan pernah cukup untuk berbagi dengan keluarga, sahabat dan teman. Terlebih 2 minggu sebelum hari keberangkatan. Kenangan itu sepertinya baru kemarin terjadi, padahal itu sudah 6 tahun berlalu. Bintang adalah orang yang membuatku teringat kembali serentetan kenangan itu.

Bintang: teman kost ketika aku kuliah, sahabat dan sudah kuanggap sebagai adikku. Kamarnya tepat di sampingku. Aku sering berlama-lama di kamarnya makan, ngemil, ngobrol random, beli makan, jalan-jalan di UPI, ia menemaniku jogging, mencuci baju bersama dan yang tak terlupakan adalah menikmati langit malam hari yang bertabur bintang di atas genteng kosan sambil ngopi. I won’t forget it. It’s too sweet to forget.

Sekarang, Bintang akan melanjutkan S2-nya di Korea selama 3 tahun, 1 tahun untuk sekolah bahasa dan 2 tahun untuk study S2-nya. Ia memberitahuku sebelum Ramadhan bahwa ia akan terbang ke Korea tanggal 29 Agustus. Entahlah…waktu sepertinya begitu cepat berlalu. Kami merencanakan untuk bertemu sepanjang waktu, bermusyawarah di mana sebaiknya kita bisa bertemu agar bisa sekalian curhat panjang dengan nyaman. Ia suka sekali pizza dan aku suka ngopi. Kami membutuhkan lebih dari satu minggu untuk mengambil keputusan apakah sebaiknya di PizzaHut? Atau di Jco?

Tapi rencana hanya rencana.
Jadwalku dan jadwalnya tak pernah cocok. Jujur, aku sesak jika mengingat ini. Apalagi mengingat bahwa rumahku dan rumahnya tidak terlalu jauh, masih satu kota. Anehnya, sulit sekali untuk bertemu. Qadarullah…

Sampai tiba saatnya ketika Sabtu minggu terakhir saat aku menelponnya,
“Bintang… when we meet up by the way? I’ll go out tomorrow, we can spend our time together.”

dan yang membuatku sesak seketika adalah…..

She told me, “Tomorrow I’ll go to Bandung, Teh.”

“when exactly?” Tanyaku sedikit lemas.

“at ten.”

*Wish I could turn back time* “I hope I can see u before you go. 3 years…I can’t imagine that we separate each other for so long. It’ll feel like….forever.”

Dan keesokan harinya aku ke rumah Bintang sekitar pukul 8 pagi. Sebenarnya ada takblig akbar yang akan kuikuti di Assunnah pukul 9 pagi. Membayangkan bahwa aku tak tahu kapan lagi berjumpa dengan Bintang. Maka…akupun memilih Bintang. Aku harap aku bisa mengikuti setengah kajian tersebut.

Akhirnya kami mengobrol, curhat. Menikmati segelas champolay dingin yang super jarang kunikmati, dan ditemani seperempat kue puteri salju yang berhasil kuhabiskan sendirian selama kami mengobrol. Bukan pizza, bukan cake, bukan kopi yang menemani kami mengobrol cantik saat itu.

Kami berbagi cerita tentang apa yang terjadi padaku, apa yang terjadi dengannya. Apa yang kurencanakan, dan apa yang ia rencanakan. Indah…

2 jam bagi kami seperti 2 menit. Kenyataannya, aku ingin menangis sambil memeluknya. Rasanya sedih sekali berpisah dengannya.

Alhamdulillah air mataku bisa ditahan.

Aku gak tahu, apakah 3 tahun lagi rencana itu masih bisa terealisasi?

Aku menyayanginya karena Allah…

Aku sekarang sudah kangen padanya.

Semoga Allah selalu menjaganya, mengirimkan ‘penjaganya’ segera.

Semoga Allah mempertemukan kami kembali dalam kebaikan. Aamiin…

*late post*

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s