Kunyah

kunyah

 

Contoh kasus:

Lokasi: di sebuah tempat kajian. Peristiwa: Berkenalan dengan seorang ummahat.

“Afwan, nama anti siapa?” | “Panggil Ummu Zaky saja.”

It means, ummahat tersebut bukan bernama Ummu Zaky, tapi (kemungkinan) anaknya bernama Zaky. Dengan kata lain Ummu Zaky = Ibunya Zaky.

Kasus di atas sebenarnya pengalaman pribadiku sih ketika awal-awal “ngaji”, aku sempat mengernyitkan dahi dan berfikir keras, “Ummu? Abu? Kunyah? Apa itu Kunyah”

Dan kenapa juga aku mencantumkan “kemungkinan” di “dalam kurung”? You’ll know it…

JADI, APA ITU KUNYAH?

Kunyah yang aku maksud disini bukan “kunyah” dalam bahasa Indonesia yang berarti melumatkan makanan di mulut, atau bahasa Inggrisnya sih “chew”. BUKAN!

Kunyah (baca: Kun-yah) yang kumaksud kali ini berasal dari bahasa Arab yang artinya “panggilan”, “sapaan” atau sebutan penghormatan pada seseorang. Biasanya “kunyah” dinisbahkan kepada nama anak (“Abu” untuk laki-laki dan “Ummu” untuk wanita) atau kepada nama ayahnya (“Ibnu untuk laki-laki dan “Bintu” untuk perempuan).

Secara umum masyarakat belum mengenal istilah kunyah, termasuk masyarakat Islam sendiri umumnya masih merasa asing dengan istilah tersebut. Kunyah merupakan diantara sunnah yang ditinggalkan/terlupakan dan sebaiknya kita menghidupkannya kembali. 

Nama Kunyah adalah nama panggilan sebagaimana kebiasaan salaf dimana mereka biasa dipanggil dengan nama kunyah mereka. Banyak hadist yang telah diriwayatkan oleh para salaf telah menerangkan dan mengindikasikan, sunnahnya “kunyah” bagi setiap muslim. Diantaranya: Abu Hurairah, Abu Bakar, Abu Darda’, Ummu Sulaim, Abu Thalhah, Ummu ‘Abdillah, Abu Syuraih, Abu Hasan, dan masih banyak lagi.

Sabda rasulullah salallahu’alaihi wassalam ketika memberi kunyah kepada Ummul Mu`miniin `Aaisyah radhiallahu `anha yaitu “Ummu `Abdillah”.

‘Aisyah berkata kepada Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Wahai Rasulullah! Semua istrimu memiliki julukan kecuali aku.”

Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda kepadanya:  “Aku juluki kamu Ummu Abdillah.”

Perawi berkata: “Selanjutnya Aisyah dipanggil Umu Abdillah sempai beliau meninggal sedangkan ia belum pernah melahirkan seorang anakpun.” [Shahiih, HR. Ahmad; Dishahiihkan oleh asy-Syaikh al-Albaaniy dalam “Silsilatul Ahaadist As Shohiihah”].

Pelajaran yang bisa dipetik dari Hadits tersebut sangat banyak sekali. Diantaranya menunjukkan bahwa kunyah untuk orang yang tidak punya anak itu diperbolehkan, juga menunjukkan bolehnya kunyah untuk anak kecil dan hal tersebut tidak termasuk kebohongan.(Dari Ahkam Ath-Thifli hal. 165). Dan yang perlu diperhatikan jika seseorang bertanya tentang siapakah kita, maka jawablah dengan nama/identitas sebenarnya, jika perlu jelaskan dengan nasab.

 

Dari Anas bin Malik, “Rasulullah sering menemui kami. Aku punya adik yang berkunyah Abu ‘Umair. Dia punya seekor burung yang sering dipakai untuk bermain. Suatu hari Nabi datang setelah burung tersebut mati. Beliau melihat Abu ‘Umair bermuram muka. Nabi lantas bertanya kepada kami ‘ada apa dengannya?’, ‘burungnya mati,’ sahut kami. Nabi lalu bersabda ‘Hai Abu ‘Umair apa yang telah dilakukan oleh burungmu?’” (HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 7830)

Jadi Hadits di atas menunjukkan bahwa anak kecil boleh diberi kunyah. (Lihat juga Ahkam Ath-Thifli, Darul Hijrah hal. 164).

 

Nabi shollahu’alaihiwasallam bertanya kepada seorang sahabat, beliau berkunyah Abul Hakam -padahal Al-Ahkam adalah nama Allah-, ‘Apakah engkau mempunyai anak ?’, sahabat tersebut menjawab, ‘Syuraih, Muslim, dan Abdullah’, ‘Siapa yang paling tua diantara ketiganya? lanjut Nabi, ‘Syuraih’ kata sahabat tersebut. Nabi bersabda, ‘Jika demikian maka engkau adalah Abu Syuraih.’ (HR. Abu dawud dan Nasai, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 2615).

Dalam Ahkam Ath-Thifli dinyatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa berkunyah dengan nama Allah semisal Abul Ahkam dan Abul ‘Ala adalah tidak dibolehkan.” (Ahkam Ath-Thifli karya Ahmad Al-Isawi hal. 165).

Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim mengatakan, “Dalam Hadits di atas Nabi memberi kunyah dengan anak yang paling tua dan itulah yang sesuai dengan sunnah sebagaimana terdapat dalam beberapa Hadits. Jika tidak memiliki anak laki-laki maka dengan nama anak perempuan yang paling tua. Ketentuan ini juga berlaku untuk kunyah seorang perempuan.” (Hasyiah Kitab At-Tauhid hal. 318).

 

Jadi, diantara adab yang berkenaan dengan nama kunyah adalah:

  1. Tidak boleh berkunyah dengan nama Allah semisal Abul A’la (Al-Maududi).
  2. Kunyah itu dengan nama anak laki-laki yang paling tua. Jika tidak ada anak laki-laki maka dengan nama anak perempuan yang paling tua.
  3. Orang yang belum atau tidak punya anak boleh berkunyah. Oleh karena itu anak kecil yang jelas belum menikah diperbolehkan untuk berkunyah.
  4. Tidak boleh berkunyah ‘Abul Qosim’ berdasarkan Hadits Rasulullah shollahu’alaihiwasallam, “Hendaklah kalian bernama dengan nama-namaku tetapi jangan berkunyah dengan kunyahku (Abul Qosim).” (HR. Bukhori no. 3537 dll).

 

Referensi:

  1. http://abuzuhriy.com/kun-yah-sunnah-yang-terlupakan/
  2. http://www.konsultasisyariah.com/hukum-nama-kunyah/
  3. http://abuayaz.blogspot.com/2010/05/nama-ana-abu-ayaz-nama-antum-abu-siapa.html

 

Advertisements

One thought on “Kunyah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s