Kepada Siapa Kita Menggantungkan Hati dan Harapan?

LET DOWN

“Seseorang menggantungkan harapan hanya kepada Allah, bukan kepada manusia. Apakah normal jika ia merasa sedih ketika dikecewakan oleh manusia?”

“Jika begitu artinya ia belum total. Ya…apapun yang berasal dari manusia itu kan atas izin Allah. Jadi jika ia merasa kecewa pada manusia tersebut, berarti kecewa pada Allah. Got it?”

Percakapan di atas merupakan dialog antara dua sahabat tentang menggantungkan harapan dan hatinya hanya kepada Allah. Karena Islam memang mengajarkan agar seseorang hanya menggantungkan dan mengaitkan hatinya kepada Allah semata.

  • Allah-lah yang telah menciptakannya. 
  • Allah juga yang mengarunainya rezeki.
  • Allah yang mengatur alam ini. 
  • Allah yang menguasai jagat raya ini. 
  • Allah yang berkuasa atas segala sesuatu. 
  • Allah yang melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. 
  • Allah Dzat yang Maha Mendengar. 
  • Allah Dzat yang Maha Melihat. 
  • Allah Dzat yang Maha Mengetahui. 
  • Allah yang mengabulkan permintaan dan permohonan hamba-Nya. 
  • Allah yang memberi manfa’at dan madhorot. 
  • Allah dengan segala kesempurnaan dzat dan sifat-sifat-Nya.

Sungguh amat pantas dan memang sudah semestinyalah bagi seseorang untuk menggantungkan dan mengaitkan hatinya hanya kepada Allah semata, Dzat yang Maha Sempurna.

“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Alam Nasyrah: 8)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku”

(Muttafaqun ‘alaih).

Jika dia yakin do’anya akan dikabulkan, maka Allah akan mudah mengabulkan. Berbeda jika kondisinya sudah putus asa dan sudah berburuk sangka pada Allah sejak awal.

Jika seseorang berdo’a dalam keadaan yakin do’anya akan terkabul, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479, hasan)

Jika do’a tak kunjung terkabul, maka yakinlah bahwa ada yang terbaik di balik itu. Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3: 18, sanad jayyid).

Semoga Allah senantiasa menjadikanlah kita termasuk sebagai orang-orang yang hanya bertawakal kepada-Nya. Aamiin

Referensi:

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s