Adab-Adab Pada Hari Jum’at

Disunnahkan bagi orang yang hendak menghadiri shalat Jum’at agar mengamalkan beberapa hadits berikut ini:

Dari Salman al-Farisi, dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jum’at, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya. Setelah itu berminyak rambut atau memakai wangi-wangian dari rumahnya. Kemudian keluar (menuju masjid), tidak memisahkan antara dua orang, lalu shalat sunnah semampunya. Lantas diam ketika imam berkhutbah, melainkan diampuni dosanya antara Jum’at itu dan Jum’at yang lain.” [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 7736)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/370 no. 883).

 

Beberapa Dzikir Dan Do’a Yang Disunnahkan Pada Hari Jum’at :

a. Memperbanyak shalawat dan salam atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam

Dari Aus bin Aus, dia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya seutama-utama hari kalian adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan. Pada hari itu pula sangkakala (kedua) ditiup dan manusia dimatikan (tiupan sangkakala pertama.) pada hari itu perbanyaklah mengucap shalawat atasku. Karena sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku.”

Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami sampai kepada engkau, padahal jasad engkau telah rusak?”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan bumi memakan (merusak) jasad para Nabi.” [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 889)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/370 no. 1034), Sunan Ibni Majah (I/345 no. 1085).

b. Membaca surat al-Kahfi (QS. 18)

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, maka terdapat cahaya yang meneranginya di antara dua Jum’at.” [Irwaa’ul Ghaliil (no. 626)], Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 6470), Mustadrak al-Hakim (II/368), dan al-Baihaqi (III/249).

 

c. Memperbanyak do’a sambil mengharap waktu yang mustajab

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Hari Jum’at terdiri dari dua belas waktu. Tidak ada seorang hamba muslim pun yg saat itu meminta kpd Allah melainkan Allah mengabulkan. Carilah ia (waktu yang mustajab) di akhir waktu tersebut, yaitu setelah shalat ‘Ashar.” Shahih: Abu Dawud, an-Nasa-i,al-Hakim meriwayatkan lafazh ini. Dia berkata: Shahih berdasarkan syarat Muslim [Shahih at-Targhiib (no. 705)], Shahiih Muslim (II/584 no. 853).

 

Shalat Jum’at di masjid jami’

Dari az-Zuhri rahimahullah, “Dahulu penduduk Dzul Hulaifah berkumpul bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal jaraknya enam mil dari Madinah.” [(Al-Baihaqi (III/175)]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi]

[Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA – Jakarta] – @almanhajindo

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s