Aside

Frau Licht: I’m Gonna Miss Her Much

Malam ini, aku menginap di rumah Frau Licht. Seperti biasa, kami selalu memiliki bahasan seru yang sepertinya takan pernah habis.

Dan pembicaraan kami malam ini adalah:
– kasus JIS,
– pendidikan anak,
– acara televisi,
– firqah-firqah,
– manhaj salaf,
– pemilu,
– Jokowi,
– Ridwan Kamil,
– freemasorry,
– rencana masa depanku,
– janji ketemuan 2 minggu yang akan datang di J-Town,
– menu makanan,
– cara memilih buah,
– bumbu pepes ikan tanpa kunyit,
– memasang poto dan status di sosmed,
– ruqyah,
– jin,
– maut,
– doa,
– kehidupan di Saudi,
– hati dan alasan
– rencana kondangan
– harga tiket kereta api
– harga mobil
– kajian ustadz Erwandi
– dan Yap!! Rencana kami besok pagi: jalan kaki setelah subuh ke pasar 🙂

Told ya, Frau Licht itu sebaya dengan ibuku. Meskipun usiaku setengah usianya, we fits each other for sure, semuanya terasa seru ketika bersamanya.

Frau Licht pernah menjadi atasanku, guru ngajiku, teman curhatku, ibuku, koki favoritku, partner jalan kaki setiap pagi, orang yang mengajarkanku untuk survive jika berbelanja di pasar, menasehatiku seputar rumah tangga, dan masih banyak lagi.

Well…
I’m gonna miss her, really.
Beliau salah satu alasanku untuk mengunjungi kompleks ini. Memikirkan kepindahanku yang tak lama lagi, aku pun membatin ‘kapan lagi aku bisa q-time bersamanya?’

Ketika kita hendak meninggalkan suatu tempat, kita akan merasa waktu terlalu cepat berlalu dan seakan-akan waktu tak pernah cukup untuk dihabiskan bersama orang yang kita sayangi.

*Okay! Aku telah terbawa suasana sekarang*

Rasanya seperti baru kemarin Frau Licht mewawancaraiku ketika aku melamar kerja di TK yang dikepalai olehnya.

Seperti baru kemarin setiap hari belajar tahsin dengannya.

Seperti baru kemarin dimarahi olehnya.

Seperti baru kemarin aku memakan tongseng kambing paling enak, dan itu adalah masakannya.

Seperti baru kemarin kami belanja baju tidur dengan ukuran dan model yang sama.

Seperti baru kemarin aku makan sepiring berdua dengannya.

Seperti baru kemarin aku menangis padanya dan ia selalu bisa menenangkanku.

Well… Im gonna miss her so bad.
Memilikinya merupakan hadiah indah dari Allah bagiku.
Ia mengajariku banyak hal, salah satunya bahwa untuk hidup bahagia dan penuh syukur kita harus realistis.
Selalu percaya bahwa apapun yang terjadi pada kita merupakan atas kehendak Allah.

Ia selalu mengingatkan, apabila seseuatu/seseorang itu memang baik untukku, bagaimana pun caranya Allah pasti akan memudahkan.

Ia selalu mengingatkanku untuk selalu berdoa dan berdzikir, karna senjata terampuh kita adalah doa.

Ia selalu mengingatkanku untuk selalu meminta kepada Allah agar tidak melepaskan hidayah-Nya.

Ia selalu mengingatkanku pada Allah. Dan itulah sebaik-baiknya teman… Seseorang yang selalu mengingatkanmu pada Allah…

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s