Kuliah lagi

Hi Hum…

Kamu berusia 1 tahun 4 bulan ketika aku memutuskan untuk berkuliah lagi. Jenjang S1 dengan jurusan yang berbeda tentunya: PG PAUD.

Aku dan salah satu sahabatku, yang juga mengajar dan mempunyai bayi, saling bertukar cerita tentang pengalaman kami bekerja serta mengurus rumah tangga. Bagai mana pembagian waktu, menghandel pekerjaan, waktu tidur, dan yang lainnya.

Ia cukup terkejut ketika aku mengatakan akan kuliah S1 lagi. Well, sebenarnya bukan hanya dia yang terkejut, sahabat super dekatku, Ami, saja mungkin cukup tercengang. Mungkin pikirnya, tidak sambil berkuliah saja dia agak sulit untuk bertemu denganku selain di sekolah yang waktunya singkat, apalagi jika ditambah aku berkuliah.

So…
Jika kamu bertanya-tanya kenapa ibuku kuliah lagi?
Ini jawabannya: Continue reading

Advertisements

Trouble Maker

Di sekolah, selalu saja ada yang di-judge sebagai trouble maker. Membawa pengaruh buruk bagi temannya, maupun sikap atau perkataan.

Taukah?

Orang tuanya sedang berusaha menyelamatkannya. Begitu pula guru-gurunya.

Me Time Masa Kini

Ketika sebelum menikah, rasanya bisa me time kapan saja. Mengejar deadline pekerjaan saja bisa termasuk me time. Karena hal seperti itu bisa memberiku kepuasan dan kesenangan batin kalau aku diberi kesempatan melakukannya.

Kalau sekarang, aku harus menunggu suami dan anak tidur dulu agar bisa melakukan me time.

Sebenarnya sama saja sih, ketika sebelum menikah pun, aku sudah terbiasa bergadang. Bahkan sering juga tidak tidur sama sekali meskipun esoknya hari kerja.

Bedanya, ketika sudah punya anak, begadangnya suka beda. Kadang sambil me time, tiba-tiba anak kebangun. Haha… Pokonya begadang yang karena tuntutan peran dan begadang karena hobi tuh terasa ya beda banget.

Intinya sih, setelah punya anak itu, waktu bukan hanya punyaku saja. Bahkan sepertinya waktu ku sudah otomatis milik mereka. Begitupun waktu mereka.

Beberapa pernah bertanya keheranan tentang aku yang bisa melaksanakan Pekerjaanku dan hobiku. BEGADANG adalah koentji.

Haha…

Hi Hum, You are my big supporter! Love you, Xoxo

Hi Hum…

Sabtu kemarin tiba-tiba pukul 7.35 sebuah pengumuman tentang penerimaan mahasiswa baru untuk jurusan PAUD diumumkan atasanku. Pengumuman yang membuat darahku berdesir itu datang ketika ayahmu sedang tidur karena tidak enak badan. He’s A morning person by the way.

Pengumuman itu bilang jika aku ingin mendaftar pada hari non kerja, maka aku harus datang hari itu juga paling lambat pukul 14. Jika tidak bisa hari ini, masih ada kesempatan di hari kerja sampai tanggal 5 September.

Suatu kesempatan yang sangat menggiurkan. Di mana, jika aku berkuliah di sana, aku akan berkuliah setiap Jumat siang dan Sabtu selama 4 tahun. Apalagi jika bibimu berkuliah di sana juga. Masya Allah.

Aku melihat ayahmu tertidur dengan lelapnya. Bergantian dengan melihatmu yang bermain dengan perlengkapan rumah tangga.

Aku bimbang.

Yup.

Dari dulu, aku menginginkan sekolah setinggi-tingginya. Ketika TK, aku ingin segera SD. Ketika SD, aku ingin segera SMP. Ketika SMP, aku ingin segera SMA. Ketika SMA, aku ingin segera kuliah. Ketika kuliah S1, aku ingin segera bekerja dan sekaligus juga ingin melanjutkan S2. Entah di luar negeri ataupun di dalam negeri.

Ibumu ini sangat obsesif. Aku selalu berusaha berjuang untuk mendapatkan yang aku harapkan. Termasuk saat aku pergi ke Jerman, padahal jelas-jelas orang tua keberatan. Kuharap kamu tidak mengikuti obsesi yang seperti ini ya. Aku saja menyesal. Haha…

Aku dan ayahmu beberapa kali membicarakan tentang keinginanku untuk kuliah lagi. Aku lebih mendalami tentang ilmu anak usia dini. Aku merasa, ilmu S1 ku yang dulu tidak menunjang passion ku saat ini. Jadi jika ada kesempatan kuliah PAUD kenapa tidak. Alhamdulillah, ayahmu mendukung.

Meskipun demikian, kemarin aku tidak bisa dengan percaya diri langsung pergi ke kampus tersebut untuk mendaftar tanpa izin terlebih dahulu pada ayahmu.

Beberapa pertanyaan terbersit.

1. Apakah dengan keputusanku berkuliah, hal itu tidak akan bermasalah pada perkembanganmu? Kupikir, jika aku tidak kuliah, hari Sabtu bisa seharian milik kita berita meskipun kita menghabiskannya hanya dengan tidur-tiduran di rumah.

2. Apakah ayahmu akan menyetujuinya pada masa ini? Masa di mana kamu semakin tumbuh dan berkembang.

3. Apakah pekerjaan rumah akan baik-baik saja?

Kemudian aku teringat.

Ibuku, ketika Bibimu seusiamu juga berkuliah. Ibuku bisa melakukannya dengan 4 anak sampai menjadi sarjana.

Tapi kemudian, aku ingat bahwa ibuku dibantu nenekku dan bahkan ada pembantu di rumah. Belum lagi, ia punya sahabat yang bisa dititipi anak-anaknya bahkan sampai menginap.

Kalau aku, cukuplah bantuan ayahmu di rumah dan orang-orang yang ada di sekolah.

Well, Allah adil.

Tinggal kita saja yang berfikir dan berusaha.

Lalu aku berkonsultasi pada sahabatku tentang ini.

Kemudia ia bertanya, “apa yang menjadi masalah”.

Lalu aku jawab, “Humaira”.

“Kamu tidak boleh menyebutnya masalah, karena bakalan menjadi masalah ke depannya”. Begitu katanya.

Lalu aku menjelaskan, bahwa sebenarnya yang aku takutkan bukan kamu yang menjadi masalah. Justru aku takut bahwa keinginanku ini yang menjadi masalah untukmu.

Ia memberiku solusi, “Bi Anih bisa kamu minta menjaga Humaira hari Sabtu”

Ya, sangat masuk akal.

Akhirnya pukul 1 kita bertiga menuju kampus tersebut dengan menggunakan sepeda motor. Aku diwawancarai seorang dosen yang menurutku wise. Aku diminta menceritakan dirimu dalam bahasa Inggris. Aku menceritakan tentang kamu yang sering memberiku kemudahan dan bantuan karena bisa bekerja sama. Begitu banyak hal yang membuatku terharu menceritakanmu.

Okay. Sampai di situ cerita tentang kamu dan keinginanku berkuliah.

Ada lagi cerita lainnya.

So, hampir setiap hari aku membawa ransel berisi laptop dan barang peruntukannya yang ku perkiraan totalnya bisa sampai 8-10kg.

Agak horor membayangkan aku pergi jalan kaki dengan menggendongmu seberat 13kg dan sekaligus ransel. Kira-kira 23 kg total bebanku. Seberat maksimal berat koper pesawat Emirates ke Jerman kelas Ekonomi. Haha…

Sebenarnya sih jalan kaki 10 menit juga bisa sampai. Jaraknya seperti dari Unpas ke Apartemen Setiabudi. Sayangnya tidak ada angkot. Ayahmu pergi hampir selalu lebih pagi. Kalau tidak mau lelah dengan 23kg, ya pakai gocar.

Bicara tentang olahraga dan penghematan, artinya berdayakan lagi jalan kaki. Kali pertama aku mencoba berjalan kaki denganmu yang kurasa sudah bisa diajak kerja sama, aku alokasikan waktu 3 x lipat dari waktu biasanya.

Karena aku tahu bahwa akan terlalu banyak distraction di jalan. Dan kenyataannya memang begitu. Tanaman, lubang di jalanan, ayam, kucing dan banyak lagi bisa mengubah arah perjalanan atau membuatmu diam di tempat. Most of All, aku puas.

Kamu amat sangat membantu dan meringankan bebanku.

Atau seperti ketika merapikan rumah. Aku harus benar-benar membetulkan mind set bahwa kamu bukanlah anak yang membuat rumah berantakan, tapi aku harus berusaha menjadikanmu seorang partner yang bisa ku ajak bekerja sama.

Masya Allah, atas izin Allah, kamu bisa diajak bekerja sama.

Seharusnya ketika workout pun demikian.

Seharusnya aku dan para ibu-ibu di luar sana yang berfikiran bahwa anak adalah alasan untuk membuat seorang ibu tidak berkembang, tidak berolahraga, tidak bekerja, dan lain sebagainya. Sebaiknya berhenti dengan Fikiran seperti itu. Karena pada akhirnya ibu akan melihat anak sebagai penghambat. Dengan melihatmu sebagai manusia kecil yang bisa distimulasi untuk bekerja sama, bismillah, atas pertolongan Allah akan dimudahkan.

Seharusnya memang, kamulah sebagai motivasi ibu untuk menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih sehat, lebih pintar, lebih shalihah dan lebih bijak.

Kalau rumah berantakan, jangan maklum karena punya anak lalu jadi kurang bersemangat beres-beres. Justru harus semakin bersemangat karena ibu adalah contoh nomor 1 anak. Kalau melihat ibunya rapi, anak bisa cinta kerapian. Begitu juga dengan kebersihan. Wallahu alam. Kamu bisa mengambil lap sendiri jika menumpahkan air. Jika melihat remahan atau serbuk-serbuk, kamu bisa mengambil sapu dan pengki atas inisiatif sendiri. Masya Allah. Ibu amat sangat berterima kasih pada Allah.

Jangan pernah menjadikan seorang anak sebagai alasan untuk memaklumi keadaan. Push yourself til The limit. Anak adalah alasan untuk berjuang.

Organizing My Life

IMG_9247

One the hardest and easiest thing in this world at the same time is organizing my life, specificly my time. Being mom is a beautiful thing offcourse and I’ll deny to exchange with something else. Haha…

And also being a teacher is a precious thing that I do. They fit in me. In fact, I always find not easy to organizing time. Seriously. Lyk I made plans on planner book, even on planner app in my smart phone. Continue reading

Hum at 10 m.o

Hi Hum.

Look at you, big girl! You are already 10 months, 76 cm lenght, 10.2 kgs weight. Such A big girl.

Dan aku baru sekarang posting di sini tentangmu?

Hehe…

Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Kamu berkembang dengan baik, sangat baik. Masya Allah.

Kamu juga sudah bisa Memanggilku “eebuuu” “mbuuu” “buuuu” sejak beberapa hari belakangan ini.

Mengingat kata yang pertama dan sering kamu ucapkan adalah “tetteehhh”, ibu sangat tersanjung kamu sudah bisa manggil ibu. Aku malah mengira kamu akan memanggilku “mama” terlebih dahulu.

Next time insya Allah I Will Add The rest about your growth. Xoxo